Dua ekor katak bertetangga. Yang satu tinggal di rawa, tempat air berlimpah, yang sangat disukai katak: yang lain tinggal di jalan setapak agak jauh, di mana satu-satunya air yang tersedia hanyalah air yang menggenang di bekas roda setelah hujan. Katak rawa memperingatkan temannya dan mendesaknya untuk datang dan tinggal bersamanya di rawa, karena ia akan menemukan tempat tinggalnya jauh lebih nyaman dan—yang lebih penting lagi—lebih aman. Tetapi yang lain menolak, mengatakan bahwa ia tidak sanggup pindah dari tempat yang sudah ia biasakan. Beberapa hari kemudian sebuah gerobak berat datang menyusuri jalan setapak, dan ia tewas terlindas roda gerobak tersebut.