MENGENAL ALLAH

✍️ Al Ghazali

sebuah hadis Nabi saw. yang terkenal beri bunyi “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah.” Artinya, dengan merenungi kan wujud dan sifatisifatnya, manusia sami pai pada sebagian pengetahuan tentang Allah. Mengingat banyak orang yang merenungkan dirinya tetapi tak juga menemu Tuhannya, berarti ada caraicara tersendiri untuk menjai lani perenungan itu. Kenyataannya, ada dua metode untuk bisa sampai pada pengetahui an ini. Salah satunya terlalu musykil sehingi ga tak bisa dicerna kecerdasan biasa dan, karenanya, lebih baik tidak kita bahas di sini.

Metode lain adalah sebagai berikut. Jika seseorang merenungkan dirinya, ia akan mei

ngetahui bahwa sebelumnya ia tidak ada, sebagaimana tertulis dalam Alquran: Tidakm kah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bum kan apamapa?(Q. 76: 1)

Lalu ia akan mengetahui bahwa ia teri buat dari setetes air yang tak mengandung intelek, pendengaran, kepala, tangan, kaki, dan seterusnya. Jadi jelaslah, setinggi apa pun tingkat kesempurnaannya, ia tidak meni ciptakan dirinya, bahkan tak kuasa untuk menciptakan meski hanya sehelai rambut.

Betapa sangat tak berdayanya manusia ketika ia hanya berupa setetes mani! Jadi, sebagaimana telah dijelaskan, ia mendapati wujudnya sebagai miniatur atau pantulan dari kekuasaan, kebijakan, dan cinta Sang Pencipta. Jika semua orang pintar dari selui ruh dunia dikumpulkan dan hidup mereka diperpanjang sampai waktu yang tak terbai tas, mereka tak akan bisa memperbaiki sedii kit saja dari struktur jasad manusia, yang paling kecil sekalipun. Keajaiban penciptaan manusia tampak dalam berbagai sisi, seperti kesesuaian antara geligi depan dan samping ketika mengunyah makanan, proporsi lidah di mulut, kelenjar air liur dan kerongkongan

untuk menelan, dan berbagai organ lainnya yang begitu menakjubkan. Lihatlah pula struktur tangan dengan lima jarinya yang tak sama panjang—empat di antaranya pui nya tiga persendian dan jempol hanya punya dua—sehingga ia bisa dipergunakan untuk mencekal, menjinjing, atau memukul. Tidak mungkin manusia, secerdas apa pun ia, mami pu membuatnya lebih baik lagi, misalnya dengan mengubah jumlah dan struktur jarii jari itu, atau dengan cara lainnya.

Lalu, jika ia memikirkan lebih lanjut mei ngenai hasratnya terhadap beragam makani an, penginapan, dan sebagainya, yang sei muanya bisa didapatkan dari gudang peni ciptaan, ia akan menyadari bahwa kasih sai yang Allah sama besarnya dengan kekuasaan dan kebijakaniNya. Allah berfirman, “Rahmatm Ku lebih luas dari kutukanmKu.” Dan sebuah hadis Nabi saw. menyebutkan bahwa kasih Allah lebih lembut daripada kasih seorang ibu pada bayinya yang sedang menyusu. Jadi, dengan mengenali penciptaan dirinya, manui sia akan mengetahui keberadaan Tuhan. Dengan merenungi struktur tubuhnya yang menakjubkan ia menyadari kekuasaan dan

Kebahagiaan sejati tak bisa dilepaskan dari makrifat—mengenal Tuhan.

Tiap fakultas dalam diri manusia menyukai segala sesuatu yang untuk itu ia diciptakan. Syahwat senang memenuhi ajakan nafsu, kemarahan menyukai balas dendam, mata menyukai pemandangan yang indah, dan telinga senang mendengar suara-suara merdu. Jiwa manusia diciptakan dengan tujuan agar ia mencerap kebenaran. Karenanya, ia akan merasa senang dan tenang

dalam upaya tersebut.

kebijaksanaan Allah. Dan dengan merenungi kan karunia yang berlimpah untuk memei nuhi berbagai kebutuhannya, ia akan mei nyadari cinta Allah kepadanya. Begitulah, mengenal diri menjadi kunci untuk mengei nal Allah.

Bukan saja sifatisifat manusia merupai kan pantulan sifatisifat Tuhan, melainkan keberadaan ruhnya pun dapat mengantarkan manusia pada pemahaman tentang keberi adaan Allah. Dengan demikian, bisa dikatai kan bahwa Allah dan ruh manusia tidak terbatasi ruang dan waktu, gaib, tak terbagi, di luar definisi kualitas dan kuantitas, serta tak dapat dilekati oleh gagasan tentang beni tuk, warna, atau ukuran. Manusia kesulitan untuk memersepsi bentuk hakikatihakikat semacam itu yang berada di luar batasan kualitas, kuantitas, dan sebagainya, sebagaii mana ia tak bisa memersepsi bentuk perasai annya sendiri, seperti marah, sakit, senang, atau cinta. Semuanya itu merupakan konsep pikiran yang tak dapat dimengerti oleh ini dra, sementara kualitas, kuantitas, dan batasi anibatasan lainnya merupakan konsep indrii awi. Sebagaimana telinga tak bisa mengenali

warna atau mata mengenali suara, kita beri ada di sebuah ruang, tempat persepsi indriai wi tak bisa dipergunakan untuk membai yangkan kedua hakikat puncak itu, Allah dan ruh. Meski demikian, sebagaimana bisa kita lihat, Allah adalah pengatur jagat dan Dia—yang berada di luar batasan ruang dan waktu, kuantitas dan kualitas—mengatur sei gala sesuatu di alam semesta ini begitu semi purna. Seperti itu pulalah ruh mengatur jai sad dan seluruh anggotanya sementara ia sendiri tak kasatmata, tak terbagi, dan tak beiruang. Bagaimana mungkin sesuatu yang tak terbagi ditempatkan di suatu ruang yang terbagi. Dari sinilah kita bisa melihat kebei naran hadis Nabi saw.: “Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diriiNya.” Setelah kita mengetahui sebagian esensi dan sifatisifat Allah melalui perenungan teri hadap esensi dan sifatisifat ruh, kita akan memahami metode kerja, pengaturan, dan pendelegasian kekuasaan Allah kepada kei kuatanikekuatan malakut dan sebagainya dengan mengamati bagaimana kita mengi atur kerajaan kecil dalam diri kita. Contoh sederhananya, seseorang ingin menulis nama

Allah. Mulaimula keinginan itu terbetik dai lam hati, kemudian dibawa ke otak oleh ruhiruh vital. Bentuk kata “Allah” tergami bar dalam relung otak, kemudian berjalan mengikuti jalur saraf dan menggerakkan jarii jari, yang kemudian menggerakkan pena. Bei gitulah, nama “Allah” tergurat di atas kertas tepat seperti yang tergambar dalam otak pei nulisnya. Demikian pula, jika Allah mengi hendaki sesuatu, ia tampil di alam ruhaniah yang dalam Alquran disebut “Singgasana” (Arasy). Dari sana ia mengikuti arus spiritui al ke suatu alam yang lebih rendah yang dii sebut Kursi (almkursiy), kemudian bentuknya tampil di Lauh Mahfuzh; lalu, melalui peri antaraan kekuatanikekuatan yang disebut “malaikat”, bentuk itu mewujud dan tampil di atas bumi dalam bentuk tanaman, pohon, hewan, dan lainilain sebagai cerminan kei inginan dan pikiran Allah, sebagaimana hui rufihuruf yang tertulis mencerminkan kei inginan yang terbetik dalam hati dan bentuk yang hadir di otak sang penulis.

Tidak seorang pun bisa memahami sei orang raja kecuali seorang raja. Karena itu, Allah telah menjadikan tiapitiap kita sebai

gai, katakanlah, seorang raja kecil, penguasa atas sebuah kerajaan yang merupakan tiruan dari kerajaaniNya. Di dalam kerajaan mai nusia, singgasana Allah dicerminkan oleh ruh, malaikat oleh hati, Kursi oleh otak, dan Lauh Mahfuzh oleh perbendaharaan pikiran. Ruh—yang tak tertempatkan dan tak terbai gi—mengatur jasad sebagaimana Allah mengi atur jagat. Pendeknya, kepada kita diamai natkan sebuah kerajaan kecil, dan kita dii wajibkan untuk mengaturnya secara saksai ma, tidak ceroboh apalagi semenaimena.

Sementara berkenaan dengan pengaturi an Allah terhadap alam semesta, pengetahui an manusia terbagi ke dalam beberapa tingi katan. Ada tingkatan fisikawan yang, seperti seekor semut yang merangkak di atas selemi bar kertas dan mengamati hurufihuruf hitam yang tersebar di atasnya, hanya mengetahui bahwa penyebabnya adalah pena. Ada tingi katan astronom yang, seperti seekor semut dengan pandangan yang lebih luas, bisa mei lihat jariijari yang menggerakkan pena. Maki sudnya, ia tahu bahwa berbagai elemen sei mesta dipengaruhi oleh kekuatan bintangi bintang, tetapi ia tidak tahu bahwa bintangi

bintang itu berada di bawah kekuasaan mai laikatimalaikat. Jadi, karena perbedaan tingkat persepsi setiap orang, tak heran jika muncul perbedaan paham mengenai Sebab Pertama dari segala akibat. Orang yang tak pernah melihat ke balik duniaigejala adalah seperti orang yang menganggap budak sebai gai raja. Memang hukum alam harus beri sifat tetap, karena jika tidak, tak akan ada sains dan sebagainya; tetapi, menganggap budak sebagai majikan adalah kesalahan besar.

Selama kapasitas persepsi manusia beri bedaibeda, perdebatan akan terus berlanjut. Keadaan itu bagaikan beberapa orang buta yang mendengar kedatangan seekor gajah di kota mereka dan kemudian pergi menyelidii kinya. Pengetahuan hanya mereka dapatkan lewat indra peraba sehingga ketika seorang memegang kaki gajah, orang kedua memei gang gadingnya, dan yang lain telinganya, tentu persepsi mereka tentang gajah akan berbeda. Orang pertama menyebut gajah sei bagai sebuah tiang, orang kedua menyebuti nya tabung yang tebal, dan yang lainnya menganggap gajah sebagai sesuatu yang lemi

but bak kapas. Setiap orang menjadikan bai gian kecil yang dipersepsinya sebagai keselui ruhan. Begitulah, fisikawan dan astronom menyamakan hukumihukum yang mereka tangkap dengan Tuhan Sang Pembuat beri bagai hukum. Kesalahan itu pulalah yang disimpulkan Ibrahim ketika ia berturutiturut berpaling kepada bintang, bulan, dan matai hari sebagai objek sembahannya. Ketika mei nyadari kesalahannya dan mengetahui Dia yang menciptakan segala sesuatu, ia berseru: “Aku tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam.” (Q. 6:76).

Ada sebuah contoh umum tentang betai pa sering manusia salah menyimpulkan sei bab kedua sebagai Sebab Pertama, yakni rasa sakit yang diderita manusia. Misalnya jika ada orang yang tak lagi tertarik pada urusi an dunia, menjauhi pelbagai bentuk kesei nangan, dan tampak tenggelam dalam depi resi, dokter akan menyimpulkan: “Ia mendei rita melankoli dan harus diobati dengan anu dan anu.” Fisikawan akan berkata, “Ia meni derita kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak akan sembuh hingga udara menjadi lembab kembali.” Dan berbei

da lagi pendapat astrolog yang mengaitkan fenomena itu dengan konjungsi planet dan bintangibintang. “Sejauh jangkauan kebijakm an mereka,” kata Alquran. Sama sekali tak terlintas dalam pikiran mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut: Yang Mahakuasa berkehendak mengurusi kesejahteraan orang itu, dan kemudian mei merintah hambaihambaiNya, yakni planet dan elemenielemen semesta lain, agar meni ciptakan situasi tertentu dalam diri orang itu sehingga ia berpaling dari dunia ke Peni ciptanya. Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan mutiara paling berharga dari sai mudera pengetahuan yang diilhamkan. Dii banding mutiara itu, semua bentuk pengetai huan lain hanya seperti pulauipulau di tei ngah lautan.

Memang pendapat ketiganya, yakni doki ter, fisikawan, dan astrolog benar dari sisi cabang pengetahuannya masingimasing, tei tapi mereka tak bisa melihat bahwa penyai kit itu adalah, katakanlah, tali cinta yang digunakan oleh Allah untuk menarik para wali mendekat kepadaiNya. Tentang para wali ini Allah berfirman dalam sebuah hadis

qudsi, “Aku sakit dan kamu tidak menjei ngukiKu.” Penyakit itu sendiri adalah salah satu di antara bentukibentuk pengalaman yang menjadi sarana bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah, sei bagaimana Dia berfirman melalui lisan Nabi saw.: “Penyakitipenyakit itu sendiri adalah hambaihambaiKu, dan semuanya bergantung pada keputusaniKu.”

Penjelasan di atas memungkinkan kita memahami lebih dalam makna seruan yang sering diucapkan orang beriman, seperti “subi hânallâh”, “alhamdulillâh”, “lâ ilâha illâ ali lâh”, dan “allâhu akbar.” Seruan terakhir, yang berarti Allah Mahabesar tidak berarti bahwa Allah lebih besar dari ciptaan, karena ciptaan adalah pengejawantahaniNya, sebai gaimana cahaya adalah pengejawantahan matahari. Tidak benar jika dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya. Seruan itu berarti bahwa kebesaran Allah tak dapat diukur dan berada di luar kemampuan kogi nisi manusia dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentang kebesaraniNya. Jika seorang anak meminta kita menjelaskan

nikmatnya kekuasaan dan memerintah, kita bisa katakan bahwa hal itu tidak berbeda dengan kesenangannya bermain bola dengan pemukulnya meski pada hakikatnya keduai nya tidak sama kecuali bahwa keduanya termasuk dalam kategori “senang”. Jadi, sei ruan “allâhu akbar” berarti bahwa kebesari aniNya jauh di luar batas kemampuan pei mahaman kita. Lagi pula, pengetahuan teni tang Allah yang tak sempurna seperti itu— sebagaimana yang bisa kita peroleh—bukan sekadar pengetahuan spekulatif, tetapi mesti disertai dengan penyerahan diri dan ibadah. Jika seseorang mati, ia hanya akan berurusi an dengan Allah. Dan jika kita harus hidup bersama seseorang, kebahagiaan kita beri gantung sepenuhnya pada seberapa besar kita mencintainya.

Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah dapat ditumbuhkan dan dikembangkan oleh ibadah. Ibadah dan zikir tak berkesudahan mencerminkan suatu tingi kat keprihatinan dan pengekangan nafsu badani. Ini tidak berarti ia harus memusnahi kan nafsu badani sepenuhnya, karena jika begitu, ras manusia akan musnah. Namun,

pemuasan hasrat tubuh itu harus dibatasi dengan ketat. Dan, karena manusia bukan hakim yang terbaik untuk menghukum dirii nya sendiri, ia harus mengonsultasikan penei tapan batasanibatasan itu kepada pembimi bing ruhani, yakni para nabi. Hukum yang mereka tetapkan berdasarkan wahyu Tuhan menetapkan batasanibatasan yang mesti dii taati manusia. Orang yang melanggarnya beri arti “telah menganiaya dirinya sendiri”, sei bagaimana dikatakan dalam Alquran. Meski pernyataan Alquran ini teramat jelas, masih banyak orang yang, karena kebodohannya akan Allah, melanggar batasibatas tersebut. Ada beberapa penyebab kebodohan ini:

Pertama, ada orang yang gagal menei mukan Allah lewat pengamatan, lantas mei nyimpulkan bahwa Allah tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban ini meni ciptakan dirinya sendiri atau ada dari keabai dian. Mereka bagaikan orang yang melihat tulisan indah kemudian menyatakan bahwa tulisan itu ada dengan sendirinya tanpa ditui lis siapa pun, atau memang sudah ada begii tu saja. Mereka yang berpola pikir seperti ini telah jauh tersesat sehingga penjelasan

dan perdebatan dengan mereka takkan beri manfaat sedikit pun. Mereka mirip dengan fisikawan dan astronom yang kita sebut di atas.

Kedua, sejumlah orang yang, karena tii dak mengetahui sifat jiwa yang sebenarnya, menolak adanya akhirat, tempat manusia akan dimintai pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau disiksa. Mereka angi gap diri mereka sendiri tak lebih baik dari hewan atau sayuran, yang akan musnah bei gitu saja dan tidak akan dibangkitkan lagi.

Ketiga, ada orang yang percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat, tetapi kepercai yaannya itu lemah. Mereka berkata, “Allah itu Mahabesar dan tidak bergantung kepada kita; tak penting bagiiNya apakah kita beri ibadah atau tidak.” Pikiran mereka itu sei perti orang sakit yang, saat dokter memberii nya nasihat penyembuhan, berkata, “Yah, kuikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu.” Memang tindakannya itu tidak berdampak apaiapa pada diri si dokter, tetai pi pasti akan merusak dirinya sendiri. Sei bagaimana penyakit jasad yang tak terobati akan membunuh jasad, penyakit jiwa yang

tak tersembuhkan pun akan menyebabkan penderitaan di masa mendatang. Allah beri firman, “Orang yang akan diselamatkan ham nyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”

Keempat, kelompok orang kafir yang berkata, “Syariat mengajari kita untuk mei nahan amarah, syahwat, dan kemunafikan. Ini perintah yang musykil dilaksanakan, kai rena manusia diciptakan dengan sifatisifat seperti itu. Itu sama saja dengan menuntut yang hitam agar menjadi putih.” Orang boi doh seperti mereka sepenuhnya tidak melii hat kenyataan bahwa syariat tidak mengajari kita untuk memusnahkan nafsuinafsu ini, tetapi untuk meletakkan mereka dalam bai tasibatasnya. Sehingga, dengan menghindari dosaidosa besar, kita bisa mendapatkan ami punan atas dosaidosa kita yang lebih kecil. Bahkan, Nabi saw. bersabda, “Aku manusia sepertimu juga, dan aku marah seperti yang lain.” Dan dalam Alquran tertulis: “Allah mencintai orang yang menahan amarahnya” (Q. 3: 134), bukan orang yang tidak punya amarah sama sekali.

Kelima, kelompok orang yang menonjoli nonjolkan kemurahan Allah seraya mengi abaikan keadilaniNya, kemudian berkata, “Ya, apa pun yang kita kerjakan, Allah Maha Pemaaf.” Mereka tidak berpikir bahi wa meskipun Allah maha mengampuni, jui taan manusia hancur secara menyedihkan karena kelaparan dan penyakit. Sebenarnya mereka tahu bahwa siapa saja yang ingin umur panjang, kemakmuran, atau kepintari an tak boleh sekadar berkata, “Tuhan Maha Pemaaf,” tetapi mesti berusaha dengan kei ras. Meski Alquran mengatakan: “Rezeki sem mua makhluk hidup datang dari Allah,” di sana tertulis pula: “Manusia tidak menm dapatkan sesuatu kecuali dengan berusaha” (Q. 53: 39). Kenyataannya, ajaran semacam itu berasal dari setan, dan orang seperti itu hanya berbicara dengan bibirnya, tidak dei ngan hatinya.

Keenam, kelompok orang yang mengi aku telah mencapai suatu tingkat kesucian tertentu sehingga mereka tak lagi dipengarui hi dosa. Namun kenyataannya, saat orang lain memperlakukan salah seorang di antara mereka secara tidak hormat, ia akan meni

Orang yang tak menginginkan pengetahuan ini tak beda dengan orang yang tak menyukai makanan sehat; atau layaknya orang yang lebih suka

lempung ketimbang roti. Ketika kematian datang dan membunuh semua organ tubuh yang biasa diperalat nafsu,

semua dorongan dan hasrat badani musnah, tetapi jiwa manusia tidak.

Ia akan tetap hidup dan menyimpan segala pengetahuannya tentang Tuhan, malah pengetahuannya

semakin bertambah.

dendam selama bertahunitahun. Dan jika salah seorang di antara mereka tidak meni dapat sebutir makanan yang menurutnya telah menjadi haknya, seluruh dunia akan tampak gelap dan sempit baginya. Bahkan, jika ada di antara mereka benaribenar bisa menaklukkan nafsunya, mereka tak punya hak untuk membuat pengakuan semacam itu, mengingat para nabi—manusia paling mulia—pun selalu meratap mengakui dosai dosa mereka. Sebagian kelompok ini bahkan begitu sombong sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari halihal yang halal. Dii riwayatkan dari Nabi saw. bahwa suatu hari seseorang menyodorkan sebutir kurma kepai danya, tetapi beliau enggan memakannya lantaran tidak yakin kurma itu diperoleh secara halal. Sementara orangiorang yang berkehidupan bebas ini mau meneguk berlii teriliter arak lalu mengaku (aku bergidik saat menulis ini) lebih unggul dari Nabi yang selalu menjaga kesuciannya bahkan dari sei butir kurma, sementara mereka merasa tak terpengaruh oleh arak sebanyak itu. Patutlah jika setan membenamkan mereka ke dalam kehancuran. Orang suci sejati mengetahui

bahwa orang yang tidak bisa menguasai nafi sunya tidak pantas disebut manusia. Dan bahwa seorang muslim sejati pastilah dei ngan senang hati mengakui batasibatas yang ditetapkan syariat. Orang yang beri upaya dengan dalih apa pun untuk mengi abaikan kewajibannya berarti bisa dipastii kan berada dalam pengaruh setan. Bagi mei reka, nasihat lisan maupun tulisan takkan lagi mempan; mereka harus diancam dengan pedang. Para mistikus palsu seperti mereka kadangikadang berpuraipura tenggelam dai lam samudra ketakjuban. Tetapi, jika kautai nyakan kepada mereka apa yang mereka takjubkan, mereka tidak mengetahuinya. Biari kanlah mereka takjub sekehendak hati merei ka, namun pada saat yang sama ingatkanlah bahwa Yang Mahakuasa adalah pencipta mereka, dan bahwa mereka adalah hambai Nya.[]