Bab Lima Belas – Gulungan kedelepan

✍️ Og. Mandino

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Sehelai daun murbei yang tersentuh kejeniusan manusia menjelma menjadi sutra.

Sebidang tanah liat yang disentuh oleh kejeniusan manusia menjelma menjadi sebuah istana.

Sebuah pohon siprus yang disentuh oleh kejeniusan manusia menjelma menjadi tempat suci.

Guntingan bulu domba yang disentuh oleh kepandaian manusia menjelma menjadi pakaian seorang raja.

Jika daun, tanah liat, kayu, dan rambut dapat dilipatgandakan nilainya seratus kali, bahkan seribu kali lipat oleh manusia, tidakkah aku pun mampu melakukan hal yang sama dengan tanah liat yang menyandang namaku?

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku hingga seratus kali lipat.

Aku bagaikan sebutir gandum yang menghadapi salah satu dari tiga nasib. Gandum itu bisa dimasukkan ke dalam karung dan dibuang di kandang hingga dijadikan makanan babi. Atau bisa digiling menjadi tepung dan dibuat roti. Atau bisa ditanam ke dalam tanah dan dibiarkan tumbuh hingga bulirnya yang keemasan membelah diri dan menghasilkan seribu biji dari satu biji semula.

Aku ibarat sebutir gandum, namun dengan satu perbedaan. Gandum tidak dapat memilih apakah ia akan dijadikan pakan babi, digiling menjadi tepung, atau ditanam untuk berkembang biak. Aku memiliki pilihan, dan aku tidak akan membiarkan hidupku menjadi santapan babi, tidak pula akan kubiarkan ia dihancurkan di bawah batu kegagalan dan keputusasaan, lalu dipecah dan dilahap oleh kehendak orang lain.

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Untuk tumbuh dan berkembang biak, benih gandum harus ditanam dalam kegelapan tanah, dan kegagalanku, keputusasaanku, kebodohanku, serta ketidakmampuanku adalah kegelapan tempat aku ditanam agar bisa masak. Kini, seperti benih gandum yang hanya akan bertunas dan mekar bila dirawat oleh hujan, matahari, dan angin hangat, aku pun harus merawat jiwa dan ragaku demi mewujudkan impian-impianku. Namun untuk tumbuh hingga mencapai ketinggian penuh, gandum harus menunggu kehendak alam. Aku tidak perlu menunggu, karena aku memiliki kuasa untuk memilih takdirku sendiri.

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Dan bagaimana aku akan mencapai ini? Pertama, aku akan menetapkan tujuan untuk hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini, dan hidupku. Sebagaimana hujan harus turun sebelum biji gandum memecah cangkangnya dan bertunas, demikian pula aku harus memiliki sasaran sebelum hidupku mengkristal menjadi sesuatu yang berarti. Dalam menetapkan tujuanku, aku akan merenungkan pencapaian terbaikku di masa lalu dan melipatgandakannya seratus kali lipat. Inilah standar yang akan menjadi landasanku di masa depan. Aku tidak akan pernah khawatir bahwa tujuanku terlalu tinggi — bukankah lebih baik mengarahkan tombakku ke bulan dan hanya mengenai elang, daripada mengarahkan tombakku ke elang dan hanya mengenai batu?

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Tingginya cita-citaku takkan membuatku gentar, meski berkali-kali aku tersandung sebelum menggapainya. Bila aku tersandung, aku akan bangkit, dan kejatuhan-kejatuhanku takkan mengusikku — sebab setiap manusia harus sering tersandung untuk sampai ke perapian tujuannya. Hanya cacing yang bebas dari kekhawatiran akan tersandung. Aku bukan cacing. Aku bukan tanaman bawang. Aku bukan domba. Aku adalah manusia. Biarlah orang lain membangun gua dari tanah liat mereka. Aku akan membangun istana dari milikku.

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Dan sebagaimana matahari harus menghangatkan bumi untuk menumbuhkan tunas gandum, demikian pula kata-kata dalam gulungan-gulungan ini akan menghangatkan hidupku dan mengubah mimpi-mimpiku menjadi kenyataan. Hari ini aku akan melampaui setiap tindakan yang telah kulakukan kemarin. Aku akan mendaki gunung hari ini dengan segenap kemampuanku, namun esok hari aku akan mendaki lebih tinggi dari hari ini, dan hari berikutnya akan lebih tinggi dari esok. Melampaui perbuatan orang lain tidaklah penting; melampaui perbuatanku sendiri adalah segalanya.

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Dan sebagaimana angin hangat membimbing gandum menuju kematangan, angin yang sama akan membawa suaraku kepada mereka yang sudi mendengar, dan kata-kataku akan mewartakan tujuanku. Sekali terucap, aku tak berani menariknya kembali agar martabatku tak runtuh. Aku akan menjadi nabi bagi diriku sendiri, dan meski semua orang menertawakan ucapanku, mereka akan mendengar rencanaku, mereka akan mengetahui impian-impianku; dan dengan demikian tak ada lagi jalan mundur bagiku hingga kata-kataku menjelma menjadi perbuatan nyata.

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku hingga seratus kali lipat.

Aku tidak akan melakukan kejahatan mengerikan berupa menetapkan tujuan yang terlalu rendah.

Aku akan melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan oleh mereka yang menyerah.

Aku akan selalu berani meraih lebih dari yang mampu kugapai.

Aku tidak akan pernah merasa puas dengan kinerjaku di pasar.

Aku akan selalu meninggikan tujuanku begitu ia tercapai.

Aku akan selalu berusaha menjadikan jam berikutnya lebih baik dari yang sekarang.

Aku akan selalu mengumumkan tujuanku kepada dunia.

Namun, tak akan pernah aku memproklamasikan pencapaianku sendiri. Biarlah dunia yang datang menghampiriku dengan pujian, dan semoga aku memiliki kebijaksanaan untuk menerimanya dengan rendah hati.

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Satu biji gandum, bila dilipatgandakan seratus kali, akan menghasilkan seratus tangkai. Lipatgandakan seratus kali lagi, sepuluh kali, dan itu akan memberi makan seluruh kota di bumi. Bukankah aku lebih dari sekadar biji gandum?

Hari ini aku akan melipatgandakan nilaiku seratus kali lipat.

Dan ketika semuanya selesai, aku akan melakukannya lagi, dan lagi, dan akan ada kekaguman serta keheranan atas kebesaranku seiring kata-kata dalam gulungan-gulungan ini terpenuhi dalam diriku.