CINTA KEPADA ALLAH

✍️ Al Ghazali

Cinta KePada Allah adalah topik paling peni ting dan tujuan akhir pembahasan buku ini. Di depan kita telah membahas ancaman dan rintangan ruhaniah yang merusak kecintaan manusia kepada Allah. Kita pun telah memi bahas sifatisifat baik yang diperlukan untuk membangkitkan dan menambah kecintaan kepadaiNya. Kesempurnaan manusia tercai pai jika cinta kepada Allah memenuhi dan menguasai hatinya. Seandainya cinta kepada Allah tidak sepenuhnya menguasai hati, setii daknya ia menjadi perasaan paling dominan, mengatasi kecintaannya kepada selain Dia. Tentu saja, kita sulit mencapai tingkatan cinta kepada Allah. Tak heran jika sebuah mazhab kalam sama sekali menyangkal ke

nyataan bahwa manusia bisa mencintai suai tu wujud yang bukan spesiesnya. Mereka mengartikan cinta kepada Allah hanya sebai tas ketaatan kepadaiNya. Orang yang beri pendapat seperti itu sesungguhnya tidak mei ngetahui apa makna agama yang sebenarnya. Seluruh muslim sepakat bahwa mereka wajib mencintai Allah, sebagaimana firmani Nya tentang sifat kaum beriman: “Dia menm cintai mereka dan mereka mencintaimNya,” dan sabda Nabi saw., “Sebelum seseorang mencintai Allah dan NabiiNya melebihi cini tanya kepada yang lain, imannya tidak bei nar.” Ketika malaikat maut datang menjemi put, Nabi Ibrahim berkata, “Pernahkah kau melihat seorang sahabat mengambil nyawa sahabatnya?” Allah menjawab, “Pernahkah kau melihat seorang kawan yang tidak suka melihat kawannya?” Maka Ibrahim pun beri kata, “Wahai Izrail, ambillah nyawaku!” Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada

para sahabatnya:

“Ya Allah, berilah aku kecintaan kei padaiMu dan kecintaan kepada orangi orang yang mencintaiiMu, dan segala yang

Cinta kepada Allah — 13.5

membawaku lebih dekat kepada cintai Mu. Jadikanlah cintaiMu lebih berharga bagiku daripada air dingin bagi orang yang kehausan.”

Hasan aliBasri sering berkata, “Orang yang mengenal Allah akan mencintaiiNya dan orang yang mengenal dunia akan memi bencinya.”

Sekarang kita akan membahas sifat cini ta. Cinta bisa didefinisikan sebagai suatu kei cenderungan kepada sesuatu yang menyei nangkan. Contoh yang paling jelas tampak pada panca indra kita. Masingimasing indra mencintai sesuatu yang membuatnya senang. Mata mencintai pemandangan yang indah, telinga mencintai musik dan suara yang meri du, dan seterusnya. Jenis cinta seperti ini juga dimiliki hewan. Tetapi manusia punya indra keenam, yakni persepsi, yang tertanam dalam hati dan tak dimiliki hewan. Fakultas persepsi membuat kita menyadari keindahan dan keunggulan ruhani. Karena itulah seseoi rang yang hanya mengenal kesenangan ini driawi tidak akan bisa memahami maksud Nabi saw. ketika menyatakan bahwa ia meni cintai salat melebihi cintanya pada wewangii

an dan wanita. Sebaliknya, orang yang matai hatinya telah terbuka untuk melihat keini dahan dan kesempurnaan Allah pasti akan meremehkan semua penglihatan luar meski semua itu tampak indah di mata.

Manusia yang hanya mengenal kesenangi an indriawi akan mengatakan bahwa keini dahan ada pada rupa yang warnaiwarni, keserasian anggota tubuh, dan seterusnya, namun tak bisa melihat keindahan moral yang dimaksudkan oleh orangiorang ketika mereka membicarakan seseorang yang bertai biat baik. Tetapi menurut orang yang punya pandangan lebih dalam, kita dapat mencini tai orangiorang besar yang telah mendahului mereka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar, yang memiliki karakter mulia meski jasad mereka telah bercampur debu. Cinta seperti itu tidak melihat bentuk luar, tetapi mencermati sifatisifat ruhani. Bahkan ketika kita ingin membangkitkan rasa cinta seorang anak kepada orang lain, kita tidak mengi uraikan keindahan tubuhnya, tetapi keungi gulan moralnya.

Jika prinsip ini kita terapkan untuk kei cintaan kepada Allah, kita akan mendapati

Cinta kepada Allah — 137

bahwa hanya Dia satuisatunya yang pantas dicintai. Seseorang yang tidak mencintai Allah berarti tak mengenaliiNya. Karena alasan inilah kita mencintai Muhammad saw., nabi dan kekasihiNya. Cinta kepada Nabi saw. berarti cinta kepada Allah. Begitu pula, cinta orang yang berilmu dan bartakwa sesungi guhnya merupakan cinta kepada Allah. Kita akan memahami hal ini lebih jelas kalau kita membahas fakorifaktor yang membangkiti kan cinta kepada Allah.

Faktor pertama adalah bahwa manusia selalu mencintai dirinya dan kesempurnaan sifatnya. Ini mengantarkannya langsung mei nuju cinta kepada Allah, karena keberadaan manusia dan sifatisifatnya tak lain adalah anugerah Allah. Kalau bukan karena kebai ikaniNya, manusia tidak akan pernah muni cul dari balik tirai ketiadaan ke dunia kasati mata ini. Pemeliharaan dan pencapaian kei sempurnaan manusia juga sepenuhnya beri gantung kepada kemurahan Allah. Sungguh aneh, ada orang yang berlindung dari panas matahari di bawah bayangan sebuah pohon tetapi tidak mensyukuri pohon itu—sumber bayangan—yang tanpanya pasti tak akan ada

Tuhan itu satu, tetapi Dia akan terlihat dalam banyak modus yang berbeda, persis seperti sebuah benda tecermin dalam beragam cara melalui sejumlah cermin; ada yang memantulkan bayangan yang lurus, ada yang baur, ada yang jelas, juga ada yang kabur. Cermin yang kotor dan rusak bisa jadi akan mengubah tampilan benda yang indah

menjadi tampak buruk. Begitu pula manusia yang datang ke akhirat

dengan hati yang kotor, rusak, dan gelap.

Sesuatu yang menyenangkan

dan membahagiakan bagi orang lain justru membuatnya sedih dan menderita.

bayangan sama sekali. Kalau bukan karena Allah, manusia tidak akan ada dan tidak akan punya sifatisifat. Karenanya, setiap orang pasti dan mesti mencintai Allah, kei cuali orangiorang yang tidak mengetahuii Nya. Mereka tak bisa mencintaiiNya, karei na cinta kepadaiNya memancar langsung dari pengetahuan tentangiNya. Dan sejak kapani kah orang yang bodoh punya pengetahuan? Faktor kedua adalah cinta manusia kei pada pendukungnya, dan sesungguhnya yang senantiasa mendukung dan membantu mai nusia hanyalah Allah. Sebab, kebaikan apa pun yang diterimanya dari sesama manusia pada hakikatnya disebabkan oleh dorongan langsung dari Allah. Motif apa saja yang menggerakkan seseorang memberi kebaikan kepada orang lain, apakah itu keinginan uni tuk mendapat pahala atau nama baik, sei

sungguhnya digerakkan oleh Allah.

Faktor ketiga adalah perenungan terhai dap sifatisifat Allah, kekuasaan, dan kebii jakaniNya. Kekuasaan dan kebijakan manui sia hanyalah cerminan paling lemah dari kebijakan dan kekuasaaniNya. Cinta seperti ini mirip dengan cinta kita kepada orang

orang besar di masa lampau, seperti Imam Malik dan Imam Syafi‘i meski kita tak peri nah berharap mendapat keuntungan dari mereka. Inilah cinta yang tanpa pamrih. Allah berfirman kepada Nabi Daud, “HambaiKu yang paling mencintaiiKu adalah yang tidak mencariiKu karena takut dihukum atau mengi harapkan pahala. Ia mencariiKu hanya uni tuk membayar hutangnya kepada ketuhani aniKu.” Dalam Alkitab tertulis: “Siapakah yang lebih kafir daripada orang yang mei nyembahKu karena takut neraka atau mengharap surga? Jika tidak Kuciptakan kei duanya, tidak pantaskah Aku untuk disemi bah?”

Faktor keempat adalah adanya “kemii ripan” antara manusia dan Allah. Inilah maki na sabda Nabi saw.: “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dei ngan diriiNya.” Dan dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “HambaiKu mendei kat kepadaiKu sehingga Aku menjadikannya sahabatiKu. Lantas, Aku menjadi telinganya, matanya, dan lidahnya.” Dan Allah berfiri man kepada Musa as.: “Aku sakit tetapi engi kau tidak menjengukku!” Musa menjawab,

“Ya Allah, Engkau adalah penguasa langit dan bumi, bagaimana mungkin Engkau sai kit?” Allah berfirman, “Salah seorang hami baiKu sakit. Dengan menjenguknya berarti kau telah mengunjungiiKu.”

Memang tema ini agak riskan diperbini cangkan karena berada di luar pemahaman orang awam. Orang yang cerdas sekalipun tersandung ketika membicarakan masalah ini sehingga mereka meyakini adanya inkarnasi dan persatuan dengan Allah. Meski demikii an, kemiripan antara manusia dan Allah menjawab keberatan teolog Zahiriah yang berpendapat bahwa manusia tidak bisa meni cintai wujud yang bukan dari spesiesnya seni diri. Betapa pun jauh jarak yang memisahi kan keduanya, manusia bisa mencintai Allah karena kemiripan yang diisyaratkan dalam sabda Nabi: “Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diriiNya.”

melihat allah

semua muslim mengakui percaya bahwa mei lihat Allah adalah puncak kebahagiaan mai nusia, sebagaimana dikatakan syariat. Tetapi kebanyakan pengakuan mereka hanyalah

pengakuan lisan yang tidak disertai keyakini an yang teguh. Fenomena ini tidaklah mengi herankan karena bagaimana bisa manusia mendambakan sesuatu yang tak diketahuii nya! Kami akan berusaha menjelaskan secai ra ringkas, kenapa melihat Allah menjadi kebahagiaan terbesar manusia.

Semua fakultas dalam diri manusia sei sungguhnya memiliki fungsi tersendiri yang harus dipenuhi. Masingimasing punya kebai ikannya sendiri, mulai dari nafsu jasadi yang paling rendah hingga pemahaman intelektual yang tertinggi. Namun, bahkan upaya meni tal yang paling kecil sekalipun akan membei rikan kesenangan yang lebih besar daripada pemuasan hasrat jasad. Begitulah, seseorang yang telah larut dalam permainan catur tii dak akan ingat makan meski berulang kali dipanggil. Dan, semakin tinggi pengetahuan kita, semakin besar kegembiraan kita. Misali nya, kita merasa lebih senang mengetahui rahasia raja daripada rahasia wazir. Karena Allah merupakan objek pengetahuan tertingi gi maka pengetahuan tentangiNya pasti akan memberikan kesenangan yang sangat besar. Orang yang mengenal Allah, di dunia ini,

pasti merasa telah berada di surga “yang lui asnya seluas langit dan bumi”, yang buahi buahannya begitu nikmat dan bebas dipetik; dan surga yang tak menjadi sempit sebanyak apa pun penghuninya.

Kendati demikian, nikmat pengetahuan masih jauh lebih kecil daripada nikmat pengi lihatan. Jelas saja, melihat orang yang kita cintai memberi kenikmatan yang jauh lebih besar ketimbang hanya mengetahui dan mei lamunkannya. Keterpenjaraan kita dalam jai sad yang terbuat dari lempung dan air ini, dan kesibukan kita mengurusi dunia telah menciptakan tirai yang menghalangi kita dari melihat Allah meski hal itu tidak mencegah kita dari memperoleh sebagian pengetahuan tentangiNya. Karena alasan inilah Allah beri firman kepada Musa di Bukit Sinai: “Engkau tidak akan bisa melihatiKu.”

Penjelasannya seperti ini. Sebagaimana benih manusia akan menjadi manusia dan biji kurma yang ditanam akan tumbuh meni jadi pohon kurma maka pengetahuan teni tang Tuhan yang dicapai di bumi pun kelak akan menjelma menjadi penampakan Tuhan di akhirat. Orang yang tak pernah mempei

lajari pengetahuan itu tak akan bisa melihat Tuhan. Kendati demikian, Tuhan akan mei nampakkan diriiNya kepada orangiorang yang mengetahuiiNya dengan kadar penami pakan yang berbedaibeda sesuai dengan tingi kat pengetahuan mereka. Tuhan itu satu, tei tapi Dia akan terlihat dalam banyak modus yang berbeda, persis seperti sebuah benda tecermin dalam beragam cara melalui sejumi lah cermin; ada yang memantulkan bayangi an yang lurus, ada yang baur, ada yang jei las, juga ada yang kabur. Cermin yang kotor dan rusak bisa jadi akan mengubah tampili an benda yang indah menjadi tampak bui ruk. Begitu pula manusia yang datang ke akhirat dengan hati yang kotor, rusak, dan gelap. Sesuatu yang menyenangkan dan memi bahagiakan bagi orang lain justru membuati nya sedih dan menderita. Orang yang hatii nya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakaniNya dibanding orang yang hatinya tidak didominasi cinta kepadaiNya. Keadaan keduanya seperti dua orang yang samaisama bermata tajam melihat wajah yang cantik. Orang yang mencintai pemilik

Cinta kepada Allah — 14.5

wajah itu akan lebih berbahagia saat menai tapnya ketimbang orang yang tidak mencini tainya. Agar mendapat kebahagiaan sempuri na, pengetahuan semata tanpa disertai cinta belumlah cukup. Dan cinta kepada Allah tak bisa memenuhi hati manusia sebelum hatii nya disucikan dengan zuhud dari cinta dui nia. Keadaan orang yang mencintai Allah di dunia ini adalah seperti pecinta yang akan melihat wajah kasihya di keremangan senja, sementara pakaiannya dipenuhi lebah dan kalajengking yang terus menyiksanya. Ia akan merasakan kebahagiaan sempurna saat matahari terbit dan menampakkan wajah sang kekasih dengan segenap keindahannya disertai matinya semua binatang berbisa yang selalu mengusiknya. Seperti itulah keadaan hamba yang mencintai Allah setelah keluar dari keremangan dan terbebas dari bala yang menyiksa di dunia ini. Ia akan melihatiNya tanpa tirai. Abu Sulaiman berkata, “Orang yang sibuk dengan dirinya di dunia, kelak akan sibuk dengan dirinya; dan orang yang sibuk dengan Allah di dunia, kelak akan sii buk denganiNya.”

Yahya ibn Mu‘adz meriwayatkan bahi wa ia mengamati Bayazid Bistami dalam sai latnya sepanjang malam. Usai salat, Bayazid berdiri dan berkata, “Ya Allah! Sebagian hamba telah meminta dan mendapat kemami puan luar biasa, berjalan di atas air atau teri bang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; sebagian lainnya meminta dan mendapatkan limpahan harta, tetapi bukan itu pula yang kuminta.”

Kemudian Bayazid berpaling dan ketika melihat Yahya, ia bertanya, “Engkaukah itu Yahya?”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Cukup lama.” Kemudian Yahya mei mintanya agar mengungkapkan beberapa pengalaman ruhaniahnya.

“Akan kuungkapkan,” jawab Bayazid, “apa yang boleh diceritakan kepadamu. Yang Mahakuasa telah memperlihatkan kerajaani Nya kepadaku, dari yang paling mulia hingi ga yang paling hina. Ia mengangkatku ke atas Arasy dan KursiiNya dan ketujuh lai ngit. Kemudian Dia berkata, ‘Mintalah kei padaiKu apa yang kauinginkan.’ Aku meni

jawab, ‘Ya Allah! Tak kuingini sesuatu pun selain Engkau.’ Dia berkata, ‘Sungguh, engi kaulah hambaiKu.”

Di kesempatan yang berbeda Bayazid berkata, “Jika Allah menawarimu keakrabi an denganiNya seperti keakraban Ibrahim kepadaiNya, kekuatan doa Musa, dan kerui hanian Isa, mintalah agar wajahmu terus mengarah kepadaiNya. Cukuplah itu bagii mu, karena Dia memiliki khazanah yang bahkan melampaui semua ini.”

Suatu hari seorang sahabatnya berkata, “Selama tigapuluh tahun aku berpuasa di siang hari dan salat di malam hari, tetapi sama sekali tak kudapati kebahagiaan ruhai niah yang sering kau sebutisebut itu.”

Bayazid menjawab, “Meski kau berpuai sa dan salat selama tiga ratus tahun, kau tei tap tidak akan mendapatinya.”

“Kenapa?”

“Karena perasaan mementingkanidirii sendiri telah menjadi tirai antara dirimu dan Allah.”

“Lalu, bagaimana menyembuhkannya?” “Kau tidak mungkin bisa melaksanai kannya.” Namun, sahabatnya itu bersikeras

memohon hingga akhirnya Bayazid berkata, “Pergilah ke tukang cukur terdekat, cukuri lah jenggotmu. Buka semua pakaianmu kei cuali korset yang melingkari pinggangmu. Ambillah sebuah kantong penuh buah kenai ri, gantungkan di lehermu, pergilah ke pasar dan berteriaklah: ‘Setiap orang yang memui kul tengkukku akan mendapat satu buah kei nari.’ Kemudian dalam keadaan seperti itu, pergilah ke tempat para kadi dan fakih.”

“Astaga!” kata temannya, “aku tak bisa melakukannya. Adakah cara penyembuhan yang lain?”

“Yang kusebutkan tadi barulah langkah awal untuk menyembuhkan penyakitmu. Namun, seperti telah kukatakan, kau tak bisa disembuhkan.”

Bayazid menunjukkan cara penyembuhi an seperti itu karena sahabatnya itu sangat ambisius mengejar kedudukan dan kehori matan. Ambisi dan kesombongan adalah pei nyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan caraicara seperti itu. Allah berfirman kepada Isa, “Wahai Isa, jika Kulihat di hati para hambaiKu kecintaan yang murni kepadai Ku, yang tidak ternodai nafsu mementingi

kan diri sendiri di dunia maupun dia akhii rat, maka Aku akan menjadi penjaga cinta itu.” Dan diriwayatkan bahwa ketika orangi orang meminta Isa a.s. menyebutkan amal yang paling mulia, ia menjawab, “Mencintai Allah dan memasrahkan diri kepada keheni dakiNya.”

Ketika ditanya apakah ia mencintai Nabi saw., Rabiah aliAdawiyah menjawab, “Kei cintaan kepada Sang Pencipta telah mencei gahku mencintai mahluk.”

Ibrahim ibn Adam dalam doanya berkai ta, “Ya Allah, di mataku, surga masih lebih rendah dari seekor serangga jika dibanding cintaku kepadaiMu dan kebahagiaan mengi ingatiMu yang telah Kauanugerahkan kei padaku.”

Sungguh telah tersesat jauh orang yang menduga bahwa kebahagiaan di akhirat bisi sa dinikmati tanpa kecintaan kepada Allah. Sebab, tujuan utama kehidupan manusia adai lah sampai kepada Allah kelak di akhirat sei bagaimana sampainya seseorang pada sesuai tu yang sangat didambakannya. Kebahagiaan pertemuan denganiNya, setelah melewati peli bagai rintangan yang tak terbilang, sungguh

tak terkatakan. Itulah kebahagiaan puncak manusia di akhirat. Namun, kebahagiaan itu takkan pernah dirasakan oleh orang yang tak pernah mencintaiiNya dan tak merasa senang kepadaiNya di dunia. Jika rasa sei nang kepada Allah di dunia teramat kecil, tentu di akhirat pun rasa senangnya sangat kecil. Ringkasnya, kebahagiaan kita di masa datang sama persis kadarnya dengan kecini taan kita kepada Allah di masa sekarang.

Nasib yang jauh lebih buruk di akhii rat—kita berlindung kepada Allah dari meni dapat nasib seperti ini—akan menimpa orang yang semasa di dunia justru mencintai sei suatu yang bertentangan dengan Allah. Bagii nya, negeri akhirat akan menjadi tempat penderitaan tak berkesudahan. Segala hal yang membuat orang lain bahagia akan memi buatnya sedih dan menderita. Keadaannya tak berbeda dengan seorang pemakan bangi kai yang pergi ke toko minyak wangi. Ketika mencium aroma yang sangat wangi, ia jatuh pingsan. Orangiorang mengerumuninya dan memercikkan air mawar kepadanya, kemui dian menciumkan misik (minyak wangi) ke hidungnya. Namun keadaannya justru semai

kin parah. Akhirnya, datanglah seseorang, yang juga pemakan bangkai. Ia mendekati kan sampah ke hidung orang itu. Segera ia bangkit sadarkan diri, mendesah puas, “Wah, ini baru wangi!”

Dengan demikian, para budak dunia tii dak akan merasakan kenikmatan akhirat. Kei bahagiaan ruhaniah di akhirat tidak akan mendekati mereka, bahkan membuat mereka semakin menderita. Hasratihasrat kotor mei reka di dunia akan dibalas dengan balasan yang kotor pula. Akhirat adalah dunia ruh yang merupakan pengejawantahan dari kei indahan Allah. Karenanya, ia tak layak bagi orang yang berpikiran dan berperilaku koi tor. Kebahagiaan itu hanya akan diberikan kepada orang yang berusaha menggapainya dan tertarik kepadanya. Mereka mencurahi kan energi dalam zuhud, ibadah, dan perei nungan sehingga ketertarikan mereka semai kin menguat. Itulah arti cinta yang sesungi guhnya. Mereka itulah yang disebutkan ayat: “Orang yang telah menyucikan jiwanya akan berbahagia.” Ketertarikan pada kebahagiaan ukhrawi tidak akan dimiliki oleh orang yang selalu bergelimang dosa dan syahwat duniawi.

Orang yang hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibanding orang yang hatinya

tidak didominasi cinta kepada-Nya. Keadaan keduanya seperti dua orang yang sama-sama bermata tajam melihat wajah yang cantik. Orang yang mencintai pemilik wajah itu akan lebih berbahagia saat menatapnya ketimbang orang

yang tidak mencintainya.

Mereka akan menderita di akhirat. Alquran menyatakan, “Dan orang yang mengotori jiwanya akan merugi.” Orang yang dianugei rahi wawasan ruhaniah memahami kebenari an ini sebagai kenyataaniteralami, bukan sei kadar ungkapan tanpa makna. Karena itulah mereka yakin betul bahwa orang yang memi bawa kebenaran itu benaribenar seorang nabi, sebagaimana orang yang telah belajar kedokteran meyakini kebenaran ucapan sei orang dokter. Keyakinan semacam ini tak lagi membutuhkan dukungan mukjizat, sei perti mengubah tongkat menjadi ular yang masih mungkin dipengaruhi oleh mukjizati mukjizat sejenis yang dilakukan para ahli sihir.

tanda-tanda Cinta KePada allah

banyaK Orang mengaku mencintai Allah, tei tapi mereka harus mempertanyakan kembali, semurni apakah kecintaan mereka itu? Kei cintaannya itu harus diuji, di antaranya dei ngan tidak membenci kematian, karena sei orang “teman” tidak akan takut bertemu dengan “teman”nya. Nabi saw. bersabda, “Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun

ingin melihatnya.” Memang benar, seorang pecinta Allah yang ikhlas mungkin saja tai kut akan kematian sebelum tuntas memperi siapkan dirinya untuk kehidupan akhirat. Namun, jika ia benaribenar ikhlas, pasti ia akan bersemangat mempersiapkan diri. Jadi, salah satu tanda bahwa seseorang mencintai Allah adalah tidak takut mati.

Tanda berikutnya adalah kesediaan sei seorang untuk mengorbankan segala hasrat dan kehendaknya demi mencapai kehendak Allah. Ia harus mengikuti dan melaksanakan segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah seraya menjauhkan diri dari segala yang menjauhkannya dari Allah.

Kendati demikian, orang yang pernah melakukan dosa tidak lantas divonis tidak mencintai Allah sama sekali. Keberdosaannya itu semataimata membuktikan bahwa ia tii dak mencintaiiNya sepenuh hati. Wali Fudhail berkata kepada seseorang, “Jika ada yang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepai da Allah, diamlah; karena jika kaujawab, ‘Aku tidak mencintaiiNya,’ kau telah kafir; dan jika kaujawab, ‘Ya, aku mencintaiiNya,’ berarti kau dusta karena banyak perbuatani

mu yang bertentangan dengan pengakuani mu.”

Tanda yang ketiga adalah pikiran yang selalu hidup dan segar berkat zikir kepada Allah. Setiap saat, ingatan kepadaiNya tak pernah lepas dari pikirannya. Seorang pecini ta pasti akan terus mengingat kekasihnya. Dan jika cintanya itu sempurna, tentu ia tii dak akan pernah melupakaniNya. Meski dei mikian, mungkin saja cinta kepada Allah tidak menempati tempat utama di hari sesei orang, namun kecintaan akan cinta kepada Allah menguasai hatinya. Kedua hal itu, cini ta kepada Allah dan kecintaan akan cinta kepadaiNya, sungguh berbeda.

Tanda cinta kepada Allah yang keempat adalah mencintai Alquran, firman Allah, dan mencintai Muhammad Nabiyullah. Lalu, jika cintanya benaribenar kuat, ia akan mencini tai semua manusia, karena mereka semua adalah hamba Allah. Bahkan, cintanya akan meliputi seluruh mahluk, karena orang yang mencintai seseorang akan mencintai karyai karya cipta dan tulisan tangannya.

Tanda yang kelima adalah adanya hasi rat yang kuat untuk beruzlah demi tujuan

ibadah. Seorang yang mencintai Allah sei nantiasa mendambakan datangnya malam agar bisa berhubungan dengan Temannya tanpa halangan. Jika ia lebih menyukai beri cakapicakap di siang hari dan tidur di mai lam hari ketimbang melakukan uzlah seperti itu, berarti cintanya tidak sempurna. Allah berkata kepada Daud a.s., “Jangan terlalu dekat dengan manusia, karena ada dua jenis manusia yang jauh dari kehadiraniKu, yaitu orang yang bernafsu mencari imbalan nai mun semangatnya kendor setelah mendapati kannya, dan orang yang lebih menyukai pii kiranipikirannya sendiri daripada mengingati Ku. Tandaitanda keenggananiKu adalah Aku membiarkannya sendirian.”

Sebenarnya, jika cinta kepada Allah bei naribenar menguasai hati manusia, kecintai an kepada segala sesuatu yang lain akan siri na. Dikisahkan bahwa seorang Bani Israil biasa salat di malam hari. Tetapi ketika mei lihat seekor burung yang selalu bernyanyi dengan merdu di atas sebatang pohon, ia mulai salat di bawah pohon itu agar dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah mei merintahkan Daud a.s. untuk mengunjungii

nya dan berkata kepadanya, “Engkau telah mencampurkan kecintaan kepada seekor bui rung yang merdu dengan kecintaan kepadai Ku sehingga tingkatanmu di antara para wali melorot jatuh.” Di lain pihak, ada orang yang sangat mencintai Allah sehingga ketika sedang beribadah kepadaiNya dan rumahi nya terbakar habis, ia tidak menyadarinya sama sekali.

Tanda yang keenam adalah perasaan rii ngan dan mudah untuk beribadah. Seorang wali berkata, “Selama tiga puluh tahun peri tama aku menjalankan ibadah malamku dei ngan susah payah, tetapi tiga puluh tahun kemudian aku bahkan sangat menyukainya.” Jika cinta kepada Allah sudah sempurna, tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kei bahagiaan beribadah kepadaiNya.

Tanda ketujuh adalah mencintai orang yang menaatiiNya dan membenci orang kai fir dan orang yang tidak taat, sebagaimana dikatakan Alquran: “Mereka bersikap keras kepada orang kafir dan saling mengasihi di antara sesamanya.” Nabi saw. pernah bertai nya kepada Allah, “Ya Allah, siapakah peni cintaipencintaiMu?” Dia menjawab, “Orang

yang berpegang erat kepadaiKu layaknya seorang anak kepada ibunya; yang berlini dung dalam mengingatiKu sebagaimana sei ekor burung mencari perlindungan di sai rangnya; dan orang yang murka melihat peri buatan dosa layaknya seekor macan ketika marah; ia tidak takut kepada apa pun.”[]