MUHASABAH DAN ZIKIR

✍️ Al Ghazali

Ketahuilah, allah telah berfirman dalam Alquran, “Akan Kami pasang satu timbangm an yang adil di Hari Perhitungan dan tak akan ada jiwa yang dianiaya dalam segala hal.” Siapa saja yang melakukan keburukan atau kebaikan meski hanya seberat biji sawi, pasti ia akan mendapati balasannya. Takkan ada sedikit pun yang diluputkan timbangan itu. Dalam ayat yang berbeda, Allah berfiri man, “Setiap jiwa akan melihat apa yang diperbuat sebelumnya pada Hari Perhitungm an.” Khalifah Umar diriwayatkan pernah beri kata, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihii sab.” Dan Tuhan berfirman, “Wahai kaum mukminin, bersabar dan berjuanglah melam wan nafsumu, dan kemudian istikamahlah.”

Para wali memahami bahwa mereka datang ke dunia ini untuk menjalani perjuangan bai tin yang hasilnya akan menentukan nasib akhir mereka: surga atau neraka. Karena itu, mereka selalu mewaspadai tubuh mereka yang kerap kali mengkhinati jiwa agar mereka tak menderita kerugian besar. Seorang yang bijak pasti akan melakukan muhasabah sei tiap pagi setelah salat subuh dan berkata kepada jiwanya, “Wahai jiwaku, tujuan hii dupmu hanya satu. Meski sedetik, saat yang telah lewat takkan bisa dikembalikan karena dalam perbendaharaan Allah bagian napasi mu sudah ditentukan, tak bisa ditambah atau dikurangi. Saat kehidupan telah berakhir, tak ada lagi laku batin yang dapat kaujalani. Karena itu, apa yang bisa kaukerjakan, keri jakanlah sekarang. Perlakukan hari ini lai yaknya hidupmu telah habis dan hari yang akan kau jalani hanyalah bonus yang dianui gerahkan Allah Yang Maharahim. Sungguh salah besar jika kau menyiainyiakan hari yang kauhidupi!”

Di Hari Perhitungan setiap orang akan melihat seluruh episode hidupnya berderet rapi di lemari perbendaharaan amal. Ketika

pintu pertama terbuka dan cahaya terang memancar darinya, berarti episode kehidupi an itu dihabiskan dalam kebaikan. Hatinya akan dipenuhi kegembiraan sedemikian bei sar, yang sedikit saja darinya akan membuat penghuni neraka melupakan panasnya api. Pintu kedua terbuka; yang tampak hanya kegelapan dan pancaran bau yang teramat busuk, yang memaksa setiap orang menutup hidung. Itu berarti ia menghabiskan episode itu dalam kemaksiatan. Ia akan merasakan ketakutan yang teramat besar, yang sedikit saja darinya mampu membuat para penghui ni surga gelisah dan memohon rahmat. Pintu lemari ketiga terbuka; di dalamnya tampak kosong, tak ada cahaya tak pula kegelapan. Ini mencerminkan saatisaat yang tidak dipai kai untuk kebaikan maupun keburukan. Ia akan merasa sangat menyesal dan kebingungi an laksana orang yang punya banyak harta namun menyiaisiakan atau membiarkannya lepas begitu saja. Begitulah, seluruh episode kehidupan manusia akan ditampilkan satu demi satu di hadapannya. Karenanya, setiap orang mesti berkata kepada jiwanya di sei tiap pagi, “Allah telah memberimu bonus

hidup dua puluh empat jam. Berhatiihatilah agar kau tidak kehilangan sedetik pun darii nya, karena kau tidak akan mampu mei nanggung besarnya penyesalan saat kerugian besar menimpamu.”

Para wali berkata, “Bahkan, seandainya Allah mengampunimu setelah kau menyiai siakan kehidupan, kau tidak pernah bisa mencapai tingkatan para saleh dan kelak kau pasti akan menyesali kerugianmu. Karena itu, awasilah dengan ketat lisanmu, matamu, dan seluruh anggota tubuhmu, karena semua itu mungkin menjadi pendorongmu ke nerai ka. Ucapkanlah pada jasadmu, ‘Jika kau memberontak, pasti aku akan menghukumi mu.’ Meski cenderung keras kepala, jasad akan menerima perintah dan dapat dijinakkan dengan laku zuhud.” Itulah tujuan muhasai bah. Nabi saw. pernah bersabda, “Kebahagiai an hanya bagi orang yang melakukan sesuai tu yang akan memberinya keuntungan di akhirat.”

Kini kita akan membahas permasalah zikir kepada Allah. Orang yang berzikir adai lah yang selalu ingat bahwa Allah mengi amati seluruh tindakan dan pikirannya. Mai

nusia hanya mampu melihat yang terindra, sementara Allah melihat yang terindra dan yang tersembunyi. Karenanya, orang yang memercayai pengawasan Allah atas dirinya pasti bisa melatih jasad dan batinnya sekalii gus. Orang yang menyangkalnya adalah orang kafir; sedangkan orang yang memeri cayainya namun tindakannya bertentangan dengan kepercayaannya itu adalah orang yang sangat angkuh dan sombong.

Suatu hari seorang Arab negro datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan banyak dosa. Mungkinkah tobatku diterima?”

“Ya,” jawab Nabi saw.

“Wahai Rasulullah, setiap kali aku mei lakukan dosa, apakah Tuhan benaribenar melihatnya?”

“Ya.”

Tibaitiba orang itu memekik keras lalu terjatuh pingsan.

Orang yang telah merasa yakin sepenuhi nya bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya, pasti ia akan selalu menapaki jalan kebenaran.

Dikisahkan bahwa ada seorang murid yang sangat dikasihi syekhnya hingga muridi murid lain iri kepadanya. Suatu hari Syekh memberi masingimasing muridnya seekor unggas dan menyuruh mereka membunuhi nya tanpa ada seorang pun yang melihat mei reka. Lalu, pergilah mereka mencari tempat yang paling sunyi untuk membunuh unggas itu. Semua murid segera kembali membawa unggas yang telah disembelih, kecuali si mui rid terkasih. Ia kembali dengan unggas yang masih hidup seraya berkata, “Saya tak mei nemukan tempat untuk membunuhnya, kai rena di manaimana Allah selalu melihat.” Syekh berkata kepada muridimuridnya, “Kini kalian tahu maqam anak muda ini. Ia telah mencapai maqam selalu ingat Allah.”

Ketika Zulaikha menggoda Yusuf, ia mei nutupkan kain ke wajah berhala yang biasa disembahnya. Yusuf berkata kepadanya, “Wahai Zulaikha, angkau malu di hadapan sebongkah batu. Bagaimana mungkin aku tak merasa malu di hadapan Dia yang meni ciptakan tujuh langit dan bumi.” Suatu ketii ka seseorang mengunjungi Junaid aliBaghdadi dan berkata, “Aku tak bisa menahan pani

Layaknya pengetahuan, kebodohan pun akan abadi menyertai jiwa. Jadi, jika kau lebih memilih kebodohan ketimbang pengetahuan tentang Allah

maka kebodohan itu akan menyertaimu di akhirat dalam wujud kegelapan jiwa dan penderitaan.

dangan dari melihat halihal yang menggaii rahkan. Apa yang mesti kulakukan?” Junaid menjawab, “Ingatlah, Allah melihatmu jauh lebih jelas daripada kamu melihat orang lain.” Dalam sebuah hadis qudsi Allah beri firman, “Surga disediakan bagi orang yang hendak melakukan dosa tetapi kemudian ingat bahwa Aku melihat mereka dan kei mudian mereka menahan diri.”

Abdullah ibn Dinar meriwayatkan bahi wa ketika ia berjalan bersama Khalifah Umar di dekat Mekah, mereka melihat seorang anak lakiilaki sedang menggembalakan sei kawanan domba. Umar berkata kepadanya, “Juallah seekor saja kepadaku.”

Gembala itu menjawab, “Domba ini bui kan milikku, tetapi milik tuanku.”

Kemudian untuk mengujinya, Umar beri kata, “Katakan saja kepada tuanmu bahwa srigala telah membunuh salah satu dombai nya. Dia tidak akan tahu!”

“Tidak, memang dia tidak akan tahu,” kata anak itu, “tetapi Allah pasti tahu.”

Umar menangis mendengar jawabannya lalu mendatangi majikan si gembala untuk membelinya dan kemudian membebaskani

nya seraya berkata, “Jawabanmu itu telah membuatmu bebas di dunia ini akan akan membuatmu bebas di akhirat.”

Ada dua tingkatan zikir kepada Allah: tingkatan pertama adalah zikir para wali yang seluruh pikirannya terserap dalam ingatan dan perenungan kepada Allah. Tak ada sei dikit pun ruang dalam hati mereka untuk selain Dia. Ini tingkatan zikir yang lebih reni dah, karena ketika hati manusia sudah mani tap dan anggota tubuhnya telah terkendalii kan oleh hatinya sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari laku yang dibolehkan maka ia sama sekali tak membutuhkan sarai na maupun pelindung dari dosa. Tingkatan inilah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi saw., “Orang yang bangun di pagi hari dan hanya Allah dalam pikirannya maka Allah akan menjaganya di dunia maupun di akhirat.”

Sebagian pelaku zikir ini begitu larut dai lam ingatan kepadaiNya sehingga mereka tii dak mendengar orang yang berbicara kepai da mereka, tidak melihat orang yang berjai lan di depan mereka; tubuh mereka linglung seakan telah menabrak dinding. Seorang wali

menuturkan bahwa suatu hari ia melewati tempat para pemanah sedang berlomba. Agak jauh dari situ, tampak seseorang duduk seni dirian. “Aku mendekatinya dan mencoba mengajaknya berbicara, tetapi ia menjawab, ‘Mengingat Allah lebih baik daripada

ngobrol.’

Aku berkata, ‘Tidakkah kau kesepian?’ ‘Tidak,’ jawabnya, ‘Allah dan dua mai

laikat bersamaku.’

Sembari menunjuk kepada para pemai nah aku bertanya lagi, ‘Mana di antara mei reka yang menjadi pemenang?’

‘Orang yang telah ditakdirkan Allah uni tuk menang,’ jawabnya.

Kemudian aku bertanya, ‘Dari manakah jalan ini berasal?’

Terhadap pertanyaan ini ia memandang lurus ke langit, kemudian bangkit seraya berkata, ‘Tuhanku, begitu banyak mahluki Mu yang menghalangihalangi orang untuk mengingatiMu.’”

Syekh aliSyibli suatu hari mengunjungi aliTsauri. Tiba di sana ia mendapati aliTsauri sedang duduk tafakur sedemikian khusyuk sehingga tak satu helai rambut pun bergei

rak. AliSyibli bertanya, “Siapa yang mengjai rimu tafakur sedemikian khusyuk?” AliTsauri menjawab, “Seekor kucing yang aku lihat menunggu di depan lubang tikus. Dibanding keadaanku sekarang, ia bahkan jauh lebih tenang.”

Ibn Hanif berkata, “Aku mendengar teni tang seorang Syekh dan muridnya di kota Tsaur yang selalu duduk dan larut dalam zii kir. Lalu aku pergi ke sana dan mendapati keduanya sedang duduk tenang menghadap kiblat. Aku mengucapkan salam tiga kali, tetapi mereka tak menjawab. Aku berkata, ‘Demi Allah, jawablah salamku.’ Si murid mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Wahai Ibn Hanif, waktu di dunia ini teramat singi kat. Dan dari waktu yang singkat itu hanya sedikit yang masih tersisa. Kau telah merini tangi kami dengan tuntutanmu agar kami membalas salammu.’ Lalu ia kembali mei nundukkan kepalanya dan melanjutkan zii kirnya. Saat itu aku merasa sangat lapar. Tetapi rasa ingin tahu tentang kedua orang itu mengalahkan rasa laparku. Kemudain aku salat Asar dan Maghrib bersama mereka, dan meminta mereka menasihatiku. Sekali

lagi si murid berujar, ‘Wahai Ibn Hanif, kami ini orang miskin, bahkan kami tak pui nya lidah untuk memberikan nasihat.’ Aku bersikukuh menyertai mereka selama tiga hari tiga malam. Tak sepatah kata pun teri lontar di antara kami dan tak seorang pun tertidur. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah, aku akan memaksa mereka memberiku nasii hat.’ Si murid membaca pikiranku, mengi angkat kepalanya, dan berkata, ‘Pergi dan carilah orang yang dengan mengunjunginya kau akan mengingat Allah dan rasa takut kepadaiNya tertanam dalam hatimu, dan yang akan memberimu nasihat dengan dii amnya, bukan lisannya.’”

Itulah tingkatan zikir para wali, yang seluruh dirinya terserap dalam perenungan kepada Allah.

Tingkatan kedua adalah zikir “golongan kanan” (ashhâbul yamîn). Mereka sadar bahi wa Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka dan merasa malu di hadapaniNya. Meski demikian, mereka tetap sadar dan tii dak larut dalam pikiran tentang keagungani Nya. Keadaan mereka seperti orang yang tibaitiba terkejut mendapati dirinya dalam

keadaan telanjang dan terburuiburu menui tupi tubuhnya. Sementara kelompok tingkati an pertama seperti orang yang tibaitiba meni dapati dirinya di hadapan seorang raja sei hingga ia kaget dan bingung. Kelompok tingi katan kedua selalu mewaspadai segala yang terlintas dalam pikiran mereka, karena kelak di Hari Perhitungan setiap tindakan akan dipertanyakan: kenapa, bagaimana, dan apa tujuan tindakan itu? Pertanyaan pertama dii ajukan karena setiap orang semestinya beri tindak berdasarkan dorongan Ilahi, bukan dorongan setan atau jasad semata. Jika peri tanyaan ini dijawab dengan baik, pertanyai an kedua mempersoalkan bagaimana tini dakan itu dilakukan, secara bijaksana, ceroi boh, ataukah lalai. Dan pertanyaan ketiga mencari tahu apakah tindakan itu dilakukan demi mencari rida Allah ataukah untuk meni dapat pujian manusia. Jika seseorang memai hami arti ketiga pertanyaan ini, ia akan mei merhatikan keadaan hatinya dan akan selalu berpikir sebelum bertindak. Mengawasi sei tiap lintasan pikiran yang muncul memang pekerjaan yang sangat berat dan musykil. Orang yang tak mampu melakukannya mesti

mengikuti bimbingan guru ruhani yang akan menerangi hatinya. Ia harus menghindari orang terpelajar yang hanya mementingkan dunia, karena mereka adalah pendukung sei tan. Allah berfirman kepada Daud a.s. “Wahai Daud, jangan bertanya tentang orang terpei lajar yang telah dimabuk cinta dunia, karena ia akan merampok cintaiKu darimu.” Dan Nabi saw. bersabda, “Allah mencintai orang yang cermat meneliti soalisoal yang meragui kan dan yang tidak membiarkan akalnya dii kuasai nafsu.” Nalar dan tugas pemilahan berkaitan erat, dan orang yang nalarnya tak mampu mengendalikan nafsunya tidak akan bisa mengawasi dan memilah pikiran serta tindakannya secara cermat.

Selain mesti berpikir dan bertindak dei ngan cermat, kita juga harus memperhitungi kan (muhâsabah) setiap tindakan yang telah dilakukan. Setiap malam, tanyalah hatimu, apa yang telah dilakukannya sepanjang hari ini sehingga kau bisa mengetahui apakah ia beruntung ataukah merugi. Ini penting dilai kukan karena hati itu laksana rekanan dai gang yang curang yang selalu siap menipu dan mengelabui. Kadangikadang ia menami

pakkan egoismenya dalam bentuk ketaatan kepada Allah sedemikian rupa sehingga orang menyangka bahwa ia telah beruntung padahal sebenarnya ia merugi.

Seorang wali bernama Amiya, yang beri usia enam puluh tahun, menghitung harii hari dalam hidupnya dan ia dapati bahwa jumlahnya mencapai 21.600 hari. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celakalah aku, sei andainya aku melakukan satu dosa saja sei tiap harinya, bagaimana aku bisa melarikan diri dari timbunan 21.600 dosa?” Ia pun memekik dan rubuh ke tanah. Ketika orangi orang datang untuk membangunkannya, mei reka dapati ia telah mati.

Namun, sebagian besar manusia bersifat lalai dan tidak pernah berpikir untuk beri muhasabah. Jika setiap dosa yang dilakukan dianggap sebagai sebutir batu yang ditemi patkan di sebuah rumah kosong, niscaya rui mah itu akan segera dipenuhi batu. Jika mai laikat pencatat menuntut upah bagi tugas menuliskan dosaidosa kita, tentu kita akan segera bangkrut. Begitu banyak orang yang merasa puas menghitung biji tasbih setiap kali menyebut nama Allah, tetapi tak punya

tasbih untuk menghitung ucapan siaisia yang tak terbilang banyaknya. Karena itu, Khalifah Umar berkata, “Timbang dengan cermat setiap kataikata dan tindakanmu sei belum semua itu ditimbang di Hari Pengi adilan nanti.” Ia sendiri sebelum beristirahat di malam hari biasa memukul kakinya diseri tai rasa ngeri seraya berseru, “Apa yang tei lah kaulakukan hari ini?”

Dikisahkan bahwa ketika salat di kebun kurmanya, Abu Thalhah melupakan jumlah rakaatnya karena melihat seekor burung ini dah. Untuk menghukum dirinya karena lai lai, kebun kurma itu ia hadiahkan. Orang suci seperti mereka mengetahui bahwa sifat indriawi cenderung tersesat. Karena itu mei reka senantiasa mengawasinya dengan ketat dan menghukumnya setiap kali melakukan kesalahan.

Jika kau menyadari kebebalanmu dan merasa sulit mendisiplinkan diri, kau harus menyertai orang yang terbiasa mempraktiki kan muhasabah agar semangat dan kegaii rahan spiritualnya menularimu. Seorang wali biasa berkata, “Jika aku lalai mendisiplini kan diri, aku menatap Muhammad ibn Wasi.

Allah Yang Mahakuasa menciptakan hati manusia bagaikan sebuah batu api.

Ia menyimpan api yang akan berpijar-pijar musik dan harmoni, yang mampu memberikan ketenteraman kepadanya dan orang lain. Harmoni yang dinikmati manusia merupakan gema dari keindahan dunia yang lebih tinggi,

yang kita sebut dunia ruh.

Hanya dengan memandangnya, gairah ruhai niku seketika bangkit, setidaknya untuk sei minggu.” Jika kau tak dapat menemukan orang yang dapat diteladani, pelajarilah kei hidupan para wali. Selain itu, kau juga mesti mendorong jiwamu agar tetap bersemangat. “Wahai jiwaku, kau anggap dirimu ceri das, dan kau marah jika disebut tolol. Sei betulnya kau ini apa? Kausiapkan pakaian untuk menutupi tubuh dari gigitan musim dingin, tetapi tak kaupersiapkan diri untuk akhirat. Sungguh kau seperti seseorang yang, saat musim dingin datang, berkata, ‘Aku tak akan memakai pakaian hangat. Aku percai ya, rahmat Tuhan akan melindungiku dari rasa dingin.’ Ia lupa bahwa selain menciptai kan dingin, Allah juga menunjuki manusia cara membuat pakaian untuk melindungi diri darinya dan menyediakan bahanibahan untuk pakaian itu. Dan ingatlah juga, wahai jiwa, kau dihukum di akhirat bukan karena Allah murka akibat ketidaktaatanmu; jangan pernah berpikir, ‘Bagaimana mungkin dosai dosaku mengganggu Allah?’ Nafsumu sendii rilah yang akan menyalakan kobaran neraka dalam dirimu. Tubuhmu sakit karena kaui

makan makanan yang tidak sehat, bukan karena dokter kesal karena kau melanggar nasihatnya.”

Celakalah kau, wahai diri, karena kau berlebihan mencintai dunia! Jika kau tidak percaya pada surga dan neraka, bagaimana mungkin kau percaya kematian yang akan merenggut semua nikmat duniawi dan memi buatmu jauh lebih menderita dibanding ketii ka kau terikat kepadanya? Untu apa kauperi gunakan dunia yang kaukumpulkan? Jika seluruh isi dunia, dari timur sampai barat, adalah milikmu dan semuanya menyembahi mu, tetap saja kelak semuanya akan menjai di debu bersama dirimu, dan namamu akan musnah seperti rajairaja terdahulu. Lalu peri hatikanlah wahai diri, karena yang kaumilii ki dari dunia ini hanyalah bagian yang sai ngat kecil dan kotor; akankah kau bertingi kah gila: menukar kebahagiaan abadi (akhii rat) dengan bagian duniamu, permata yang mahal dengan sebuah gelas pecah terbuat dari lempung dan menjadikan dirimu bahan tertawaan orangiorang di sekitarmu?”