Bersyukur Itu Pilihan: Pelajaran dari Pollyanna
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang sering kita lupakan di tengah kesibukan hidup: apakah hari ini saya sudah bersyukur?
Pollyanna, gadis kecil dalam novel klasik karya Eleanor H. Porter, tidak pernah melupakan pertanyaan itu. Bahkan ketika ia kehilangan ayahnya, bahkan ketika ia tinggal dengan bibi yang kaku dan dingin, bahkan ketika ia menghadapi cobaan yang berat — Pollyanna selalu menemukan sesuatu untuk disyukuri.
Kisah ini bukan tentang gadis yang tidak pernah bersedih. Pollyanna juga merasakan duka, kesendirian, dan kesulitan. Yang membuatnya istimewa adalah pilihannya — ia memilih untuk tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan mencari cahaya sekecil apapun di dalam kegelapan.
Syukur dalam Perspektif Islam
Islam menempatkan syukur pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa orang-orang yang bersyukur sangat sedikit (QS. Saba: 13), seolah mengajak kita untuk menjadi bagian dari golongan yang langka itu. Syukur dalam Islam bukan sekadar mengucapkan "alhamdulillah" — ia adalah kondisi hati yang mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah, dan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-Nya.
Pollyanna, meski tidak mengenal Islam, menjalani sesuatu yang sangat mirip dengan semangat itu. Ia tidak menyombongkan diri dengan kesulitannya. Ia tidak mengasihani dirinya secara berlebihan. Ia memilih untuk melihat pemberian — sekecil apapun — dan bersyukur atasnya.
Pelajaran untuk Kita
Ada tiga pelajaran utama yang bisa kita ambil dari kisah Pollyanna:
1. Syukur adalah latihan, bukan perasaan spontan. Pollyanna melatih dirinya setiap hari untuk menemukan alasan bersyukur. Ini mengajarkan kita bahwa rasa syukur perlu dipupuk dengan kesadaran, bukan sekadar menunggu kebahagiaan datang.
2. Satu jiwa yang bersyukur dapat mengubah lingkungannya. Kehadiran Pollyanna mengubah banyak orang di sekitarnya. Ini mengingatkan kita akan hadis Nabi: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
3. Husnuzhan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Berbaik sangka kepada Allah dan kepada kehidupan — sebagaimana yang diajarkan Islam — bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Ia adalah pilihan sadar untuk percaya bahwa di balik setiap kesulitan, ada kemudahan.
Catatan Penting bagi Pembaca Muslim
Buku ini ditulis dalam konteks tradisi Kristen Protestan. Ayah Pollyanna adalah seorang pendeta, dan beberapa referensi dalam cerita mencerminkan latar tersebut. Pembaca Muslim dianjurkan untuk mengambil hikmah moralnya tanpa menjadikan latar keagamaannya sebagai acuan.
Sebagaimana ulama kita mengajarkan: "Ambillah hikmah meski datang dari tempat yang jauh." Yang penting, filter dengan aqidah yang benar, dan jadikan syukur kepada Allah — bukan sekadar kepada kehidupan — sebagai fondasinya.
Semoga bacaan ini menjadi sebab bertambahnya rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya. Alhamdulillahi rabbil 'alamin.