Bab Empat

✍️ Og. Mandino

Hafid menyingkirkan sepotong roti yang baru setengah dimakannya, lalu merenungkan nasibnya yang malang. Besok akan menjadi hari keempatnya di Bethlehem, dan jubah merah satu-satunya yang dulu ia bawa dengan penuh keyakinan dari kafilah itu masih tersimpan rapi di dalam buntalan, di punggung hewan tunggangannya yang kini diikat pada sebuah tonggak di gua belakang penginapan.

Ia tak mendengar keributan di sekelilingnya di aula makan yang sesak itu, terlalu sibuk menatap sinis makanannya yang tak tersentuh. Keraguan-keraguan yang telah menghantui setiap pedagang sejak awal mula zaman berkelebat dalam benaknya:

"Mengapa orang-orang tidak mau mendengar ceritaku? Bagaimana cara menarik perhatian mereka? Mengapa mereka menutup pintu sebelum aku sempat mengucapkan lima patah kata? Mengapa mereka kehilangan minat pada omonganku lalu pergi begitu saja? Apakah semua orang di kota ini miskin? Apa yang harus kukatakan ketika mereka bilang suka jubah itu tapi tidak mampu membelinya? Mengapa begitu banyak yang menyuruhku datang lagi lain waktu? Bagaimana orang lain bisa berjualan sementara aku tidak? Rasa takut apa yang mencengkeramku setiap kali mendekati pintu yang tertutup, dan bagaimana cara mengatasinya? Apakah hargaku tidak sebanding dengan penjual lainnya?"

Ia menggelengkan kepala, muak dengan kegagalannya sendiri. Mungkin memang bukan ini jalan hidupnya. Mungkin ia seharusnya tetap menjadi penjaga unta dan terus menerima upah recehan untuk setiap hari kerja kerasnya. Sebagai seorang pedagang, ia sudah patut bersyukur bila bisa kembali ke kafilah dengan membawa keuntungan sedikit pun. Apa yang pernah Pathros sebutkan tentang dirinya? Seorang prajurit muda? Sejenak, ia berharap bisa kembali bersama hewan-hewan peliharaannya.

Lalu pikirannya beralih kepada Lisha dan ayahnya yang keras, Calneh, dan keraguan itu pun segera sirna dari benaknya. Malam ini ia akan tidur lagi di perbukitan untuk menghemat uangnya, dan besok ia akan menjual jubah itu. Lebih dari itu, ia akan berbicara dengan begitu fasih sehingga jubah itu akan terjual dengan harga yang baik. Ia akan memulai lebih awal, sesaat setelah fajar menyingsing, dan menempatkan diri di dekat sumur kota. Ia akan menyapa setiap orang yang mendekat, dan dalam waktu singkat ia akan kembali ke Bukit Zaitun dengan kantong perak yang penuh.

Ia meraih roti yang belum habis dimakan dan mulai mengunyah sambil memikirkan tuannya. Pathros pasti akan bangga kepadanya karena ia tidak menyerah dan pulang membawa kegagalan. Memang, empat hari adalah waktu yang terlampau lama hanya untuk menyelesaikan penjualan sehelai jubah sederhana — namun jika ia mampu melakukannya dalam empat hari, ia yakin bahwa ia bisa belajar dari Pathros cara melakukannya dalam tiga hari, lalu dua hari. Pada waktunya, ia akan menjadi begitu mahir hingga mampu menjual banyak jubah setiap jamnya! Barulah ia benar-benar layak disebut seorang pedagang yang disegani.

Ia meninggalkan penginapan yang gaduh dan menuju ke gua tempat hewannya berada. Udara dingin telah mengeraskan rumput dengan lapisan embun beku yang tipis, dan setiap helai rumput berderak protes saat diinjak sandalnya. Hafid memutuskan untuk tidak menunggangi hewannya menelusuri perbukitan malam ini. Sebaliknya, ia akan beristirahat di dalam gua bersama hewannya.

Besok, ia tahu, pasti akan lebih baik — meskipun kini ia mulai memahami mengapa para pedagang lain selalu melewati desa yang tak makmur ini. Mereka pernah bilang bahwa tak ada yang bisa dijual di sini, dan kata-kata itu selalu terngiang di benaknya setiap kali seseorang menolak membeli jubahnya. Namun, Pathros pernah menjual ratusan jubah di sini bertahun-tahun silam. Mungkin keadaan memang berbeda kala itu — dan bagaimanapun, Pathros adalah seorang penjual yang luar biasa.

Cahaya yang berkedip-kedip dari dalam gua membuatnya mempercepat langkah, khawatir ada pencuri di dalamnya. Ia bergegas masuk melalui celah batu kapur, siap melumpuhkan sang penjahat dan merebut kembali miliknya. Namun, ketegangan itu seketika luruh dari tubuhnya begitu melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.

Sebuah lilin kecil yang dijepit di celah dinding gua memancarkan cahaya redup pada seorang pria berjanggut dan seorang wanita muda yang duduk berdekatan. Di kaki mereka, dalam sebuah batu berongga yang biasanya digunakan untuk tempat pakan ternak, seorang bayi tertidur lelap. Hafid tidak banyak tahu soal hal-hal semacam ini, namun ia dapat merasakan bahwa bayi itu baru saja lahir dari kulitnya yang keriput dan kemerah-merahan. Demi melindungi sang bayi dari dingin, jubah si pria maupun si wanita menyelimuti seluruh tubuhnya, menyisakan kepala kecil itu saja yang terlihat.

Lelaki itu mengangguk ke arah Hafid sementara sang perempuan mendekat ke arah si anak. Tak seorang pun bersuara. Lalu perempuan itu menggigil, dan Hafid melihat bahwa pakaiannya yang tipis tak mampu melindunginya dari kelembapan gua. Hafid kembali menatap bayi itu. Ia terpesona menyaksikan mulut mungil itu membuka dan menutup, seolah tersenyum, dan sebuah perasaan aneh menjalar di dalam dirinya. Tanpa alasan yang jelas, pikirannya melayang ke Lisha. Perempuan itu kembali menggigil kedinginan, dan gerakan tiba-tibanya menarik Hafid kembali dari lamunannya.

Setelah beberapa saat yang menyiksa dalam kebimbangan, calon penjual barang itu melangkah menghampiri hewannya. Dengan hati-hati ia mengurai simpul-simpulnya, membuka buntelannya, dan mengeluarkan jubah itu. Ia membentangkannya dan mengusapkan kedua tangannya di atas kain tersebut. Warna merah tua berpendar dalam cahaya lilin, dan ia bisa melihat tanda Pathros serta tanda Tola di sisi bawahnya. Lingkaran di dalam kotak dan bintang. Sudah berapa kali ia mendekap jubah ini di lengannya yang lelah selama tiga hari terakhir? Rasanya seolah ia mengenal setiap tenunan dan setiap serat kainnya. Ini memang jubah berkualitas tinggi. Jika dirawat dengan baik, ia akan bertahan seumur hidup.

Hafid memejamkan mata dan menghela napas. Lalu ia melangkah cepat menghampiri keluarga kecil itu, berlutut di atas jerami di sisi sang bayi, dan dengan lembut mengambil jubah lusuh sang ayah, kemudian jubah sang ibu, satu per satu dari palungan itu. Ia mengembalikan masing-masing jubah kepada pemiliknya. Keduanya terlalu terkejut melihat keberanian Hafid hingga tak mampu bereaksi. Lalu Hafid membuka jubah merahnya yang berharga itu dan menyelimutkan dengan lembut tubuh si anak yang sedang tidur.

Bekas lembap dari ciuman sang ibu muda masih terasa di pipi Hafid ketika ia menuntun hewan tunggangannya keluar dari gua. Tepat di atasnya bersinar sebuah bintang — paling terang yang pernah dilihat Hafid seumur hidupnya. Ia menatapnya lekat-lekat hingga matanya berkaca-kaca, lalu mengarahkan hewan tunggangannya menyusuri jalan setapak menuju jalan utama yang membentang kembali ke Jerusalem dan kafilah di atas gunung.