Musim dingin telah tiba, dan hawa dingin menggigit di Bukit Zaitun. Dari Jerusalem, di seberang celah sempit Lembah Kidron, terciumlah bau asap, dupa, dan daging yang terbakar dari Bait Suci β kepulan bau busuk itu berbaur dengan aroma terpentin dari pohon-pohon terebinth di lereng gunung.
Di lereng terbuka, hanya sejarak beberapa langkah turun dari desa Bethpage, tertidur lelap kafilah dagang raksasa milik Pathros dari Palmyra. Malam sudah larut, bahkan kuda jantan kesayangan sang saudagar agung itu pun telah berhenti mengunyah semak-semak pistachio yang rendah dan membaringkan dirinya di tepi pagar laurel yang lembut.
Di balik deretan tenda-tenda sunyi yang memanjang, tali-tali rami tebal melilit empat pohon zaitun tua. Keempatnya membentuk kandang persegi yang menampung siluet-siluet unta dan keledai yang bergerombol saling mendekat untuk berbagi kehangatan. Kecuali dua orang penjaga yang berpatroli di dekat gerobak-gerobak muatan, satu-satunya tanda kehidupan di perkemahan itu adalah bayangan tinggi yang bergerak-gerak, tergambar jelas pada dinding tenda besar Pathros yang terbuat dari bulu kambing.
Di dalam, Pathros mondar-mandir dengan penuh amarah, sesekali berhenti untuk mengernyitkan dahi dan menggelengkan kepala ke arah pemuda yang berlutut gugup di dekat pintu tenda. Akhirnya ia menurunkan tubuhnya yang sakit ke atas permadani berbenang emas dan memberi isyarat kepada anak muda itu untuk mendekat.
"Hafid, kamu selalu kuanggap seperti anakku sendiri. Aku bingung dan heran dengan permintaanmu yang aneh ini. Apakah kamu tidak puas dengan pekerjaanmu?"
Mata anak itu tertuju pada permadani. "Tidak, Paduka."
"Mungkin ukuran kafilah kita yang terus membesar telah membuat tugasmu merawat semua hewan kita menjadi terlalu berat?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Kalau begitu, tolong ulangi permintaanmu. Sertakan pula, dalam kata-katamu, alasan di balik permintaan yang tidak biasa ini."
"Keinginanku adalah menjadi penjual barang-barangmu, bukan sekadar anak penggembala untamu. Aku ingin menjadi seperti Hadad, Simon, Caleb, dan yang lainnya β mereka yang berangkat dari gerobak-gerobak kita dengan hewan-hewan yang hampir tak sanggup melangkah karena beratnya muatan barangmu, lalu kembali membawa emas untukmu dan emas pula untuk diri mereka sendiri. Aku ingin mengangkat derajatku yang hina ini. Sebagai anak penggembala unta, aku bukan siapa-siapa, namun sebagai penjualmu, aku bisa meraih kekayaan dan kesuksesan."
"Dari mana kamu tahu ini?"
"Sering kali aku mendengarmu berkata bahwa tidak ada profesi atau pekerjaan lain yang memberi kesempatan lebih besar bagi seseorang untuk bangkit dari kemiskinan menuju kekayaan berlimpah, selain menjadi seorang penjual."
Pathros mulai mengangguk, namun mengurungkan niatnya dan melanjutkan pertanyaannya kepada pemuda itu. "Apakah kamu yakin mampu bekerja seperti Hadad dan para penjual lainnya?"
Hafid menatap pria tua itu dengan seksama dan berkata, "Sudah berkali-kali aku mendengar Caleb mengeluh kepadamu tentang berbagai nasib sial yang dianggapnya sebagai penyebab sedikitnya penjualan, dan sudah berkali-kali pula aku mendengarmu mengingatkan dia bahwa siapa pun sebenarnya mampu menghabiskan seluruh isi gudangmu dalam waktu singkat, asalkan ia mau bersungguh-sungguh mempelajari prinsip-prinsip dan hukum-hukum berdagang. Jika engkau percaya bahwa Caleb, yang oleh semua orang dianggap bodoh, pun bisa mempelajari prinsip-prinsip ini, maka mengapa aku tidak bisa mendapatkan ilmu istimewa itu juga?"
"Jika kamu berhasil menguasai prinsip-prinsip ini, apa yang ingin kamu raih dalam hidupmu?"
Hafid ragu sejenak, lalu berkata, "Kabar tentang kehebatanmu sebagai pedagang telah tersebar ke seluruh penjuru negeri. Dunia belum pernah menyaksikan imperium dagang seperti yang telah kaubangun melalui kepiawaianmu dalam berdagang. Ambisiku adalah melampaui dirimu β menjadi pedagang terbesar, orang terkaya, dan penjual ulung nomor satu di seluruh dunia!"
Pathros bersandar ke belakang dan mengamati wajah muda yang gelap itu. Bau hewan masih menempel di pakaiannya, namun si pemuda sama sekali tidak menampakkan kerendahan hati dalam sikapnya. "Dan apa yang akan kau lakukan dengan semua kekayaan besar ini dan kekuasaan dahsyat yang pasti akan menyertainya?"
"Aku akan melakukan seperti yang kau lakukan. Keluargaku akan kucukupi dengan segala kebutuhan terbaik di dunia ini, dan sisanya akan kubagikan kepada mereka yang membutuhkan."
Pathros menggelengkan kepalanya. "Kekayaan, anakku, tidak seharusnya menjadi tujuan hidupmu. Kata-katamu memang indah, namun itu hanyalah kata-kata belaka. Kekayaan sejati bersemayam di dalam hati, bukan di dalam kantong."
Hafid terus mendesak, "Bukankah tuan seorang yang kaya, Tuan?"
Orang tua itu tersenyum melihat keberanian Hafid. "Hafid, sejauh menyangkut kekayaan materi, hanya ada satu perbedaan antara diriku dan pengemis paling hina di luar istana Herodes. Pengemis itu hanya memikirkan makanan berikutnya, sedangkan aku hanya memikirkan makanan yang akan menjadi terakhir bagiku. Tidak, anakku, janganlah kau mengejar kekayaan dan bekerja keras semata-mata untuk menjadi kaya. Berjuanglah untuk kebahagiaan, untuk dicintai dan mencintai, dan yang paling utama, untuk meraih ketenangan pikiran dan kedamaian jiwa."
Hafid terus bersikeras. "Tapi semua itu mustahil tanpa emas. Siapa yang bisa hidup dalam kemiskinan dengan hati yang tenang? Bagaimana seseorang bisa bahagia dengan perut yang kosong? Bagaimana seseorang bisa membuktikan kasih sayangnya kepada keluarga jika ia tidak mampu memberi mereka makan, pakaian, dan tempat tinggal? Engkau sendiri pernah berkata bahwa kekayaan itu baik ketika ia membawa kebahagiaan bagi orang lain. Lalu mengapa ambisiku untuk menjadi kaya bukanlah ambisi yang baik? Kemiskinan mungkin merupakan sebuah keistimewaan, bahkan sebuah jalan hidup, bagi para rahib di padang pasir, sebab mereka hanya perlu menghidupi diri sendiri dan tak perlu menyenangkan siapa pun selain tuhannya, namun aku memandang kemiskinan sebagai tanda kurangnya kemampuan atau kurangnya ambisi. Dan aku tidak kekurangan satu pun dari kedua hal itu!"
Pathros mengerutkan dahi, "Apa yang menyebabkan ledakan ambisi mendadak ini? Kau bicara soal menghidupi keluarga, padahal kau tidak punya keluarga β kecuali aku, yang telah mengangkatmu sejak wabah merenggut ibu dan ayahmu."
Kulit Hafid yang legam terbakar matahari tak mampu menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba merebak di pipinya. "Sewaktu kami berkemah di Hebron sebelum melanjutkan perjalanan ke sini, aku bertemu dengan putri Calneh. Dia β¦ dia β¦"
"Oh, ho, kini kebenaran terungkap. Cinta, bukan cita-cita mulia, yang telah mengubah anak pengembala unta ku menjadi seorang prajurit gagah yang siap menantang dunia. Calneh adalah pria yang sangat kaya. Putrinya dan seorang anak pengembala unta? Tidak mungkin! Tapi putrinya dan seorang pedagang muda, tampan, dan kaya raya⦠ah, itu lain ceritanya. Baiklah, prajurit mudaku, aku akan membantumu memulai kariermu sebagai seorang pedagang."
Pemuda itu berlutut dan meraih jubah Pathros. "Tuan, Tuan! Kata-kata apa yang bisa kuucapkan untuk mengungkapkan rasa terima kasihku?"
Pathros melepaskan diri dari pegangan Hafid dan melangkah mundur. "Aku sarankan kau tahan rasa terima kasihmu untuk saat ini. Bantuan apa pun yang aku berikan padamu tak akan lebih dari sebutir pasir dibandingkan gunung-gunung yang harus kau pindahkan sendiri."
Kegembiraan Hafid langsung surut ketika ia bertanya, "Apakah Tuan tidak akan mengajariku prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang akan mengubahku menjadi seorang penjual ulung?"
"Aku tidak akan melakukannya. Sama seperti aku tidak pernah memanjakan masa mudamu dengan kemewahan dan kesenangan. Aku sering dikritik karena menghukum anak angkatku dengan kehidupan seorang penggembala unta, namun aku percaya bahwa jika api yang tepat menyala di dalam diri seseorang, ia pasti akan muncul pada akhirnya β¦ dan ketika itu terjadi, kamu akan menjadi jauh lebih dewasa berkat tahun-tahun kerja kerasmu yang berat. Malam ini, permintaanmu telah membuatku bahagia, karena api ambisi menyala dalam matamu dan wajahmu bersinar dengan hasrat yang membara. Ini adalah pertanda baik dan penilaianku terbukti benar, namun kamu tetap harus membuktikan bahwa ada lebih dari sekadar angin di balik kata-katamu."
Hafid terdiam dan orang tua itu melanjutkan, "Pertama, kamu harus membuktikan kepadaku, dan yang lebih penting kepada dirimu sendiri, bahwa kamu mampu menjalani kehidupan seorang penjual β karena ini bukanlah jalan yang mudah yang telah kamu pilih. Sungguh, sudah berkali-kali kamu mendengarku berkata bahwa hadiahnya sangat besar bagi mereka yang berhasil, namun hadiahnya besar justru karena begitu sedikit yang mampu meraihnya. Banyak yang menyerah pada keputusasaan dan gagal tanpa menyadari bahwa sesungguhnya mereka telah memiliki semua bekal yang dibutuhkan untuk meraih kekayaan besar. Banyak pula yang menghadapi setiap rintangan di hadapan mereka dengan rasa takut dan keraguan, dan memandangnya sebagai musuh β padahal sejatinya, hambatan-hambatan itu adalah sahabat dan penolong. Rintangan adalah sesuatu yang niscaya ada demi kesuksesan, karena dalam dunia penjualan, sebagaimana dalam segala karier yang bermakna, kemenangan hanya datang setelah banyak perjuangan dan kekalahan yang tak terhitung. Namun setiap perjuangan, setiap kekalahan, mengasah kemampuan dan kekuatanmu, keberanianmu dan ketabahanmu, kecakapanmu dan kepercayaan dirimu β sehingga setiap rintangan adalah kawan seperjuangan yang memaksamu untuk menjadi lebih baik β¦ atau menyerah. Setiap penolakan adalah kesempatan untuk melangkah maju; berpaling darinya, menghindarinya, dan kamu pun membuang masa depanmu sendiri."
Sang pemuda mengangguk dan hendak berbicara, namun orang tua itu mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Lebih jauh lagi, kau tengah memasuki profesi yang paling sunyi di dunia. Bahkan para pemungut pajak yang dicemooh pun pulang ke rumah mereka saat senja tiba, dan legiun-legiun Roma memiliki barak yang dapat mereka sebut rumah. Namun kau akan menyaksikan banyak matahari terbenam jauh dari semua sahabat dan orang-orang terkasih. Tak ada yang mampu mendatangkan pedihnya kesepian kepada seseorang secepat saat melewati sebuah rumah asing di kegelapan malam dan menyaksikan, dari cahaya lampu yang memancar ke luar, sebuah keluarga sedang berbagi makan malam bersama.
"Di saat-saat kesepian itulah berbagai godaan akan datang menghampirimu," Pathros melanjutkan. "Bagaimana kamu menghadapi godaan-godaan itu akan sangat menentukan perjalanan kariermu. Ketika kamu berada di jalanan hanya bersama hewan tungganganmu, ada perasaan aneh yang sering kali terasa menakutkan. Seringkali sudut pandang dan nilai-nilai kita terlupakan untuk sementara, dan kita menjadi seperti anak kecil yang merindukan keamanan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat kita. Apa yang kita temukan sebagai pelariannya telah menghancurkan karier banyak orang, termasuk ribuan yang dianggap memiliki bakat besar dalam seni berdagang. Lebih dari itu, tidak akan ada seorang pun yang menghiburmu atau menguatkanmu ketika kamu tidak berhasil menjual apa pun; tidak ada seorang pun, kecuali mereka yang berniat menguras isi kantong uangmu."
"Aku akan berhati-hati dan mengindahkan kata-kata peringatanmu."
"Kalau begitu, mari kita mulai. Untuk saat ini, kamu tidak akan menerima nasihat lebih lanjut dariku. Kamu berdiri di hadapanku seperti buah ara yang masih hijau. Sebelum buah ara itu matang, ia tidak bisa disebut buah ara, dan sebelum kamu terpapar oleh ilmu dan pengalaman, kamu tidak bisa disebut seorang penjual."
"Dari mana harus aku mulai?"
"Di pagi hari kamu harus melapor kepada Silvio di gerobak bagasi. Ia akan menyerahkan ke dalam pengawasanmu salah satu jubah tanpa jahitan terbaik kami. Jubah itu ditenun dari bulu kambing, mampu menahan hujan paling lebat sekalipun, dan dicelup merah menggunakan akar tanaman madder sehingga warnanya akan selalu terjaga. Di dekat bagian bawah, pada sisi dalamnya, kamu akan menemukan sebuah bintang kecil yang dijahit. Ini adalah tanda milik Tola, yang gildanya membuat jubah-jubah terbaik di seluruh dunia. Di sebelah bintang itu terdapat tandaku, sebuah lingkaran di dalam persegi. Kedua tanda ini dikenal dan dihormati di seluruh penjuru negeri, dan kami telah menjual ribuan jubah semacam ini tanpa terhitung jumlahnya. Aku sudah begitu lama berdagang dengan orang-orang Yahudi hingga aku hanya mengenal nama mereka untuk pakaian seperti ini. Mereka menyebutnya abeyah."
"Ambillah jubah itu beserta seekor keledai, lalu berangkatlah saat fajar menuju Bethlehem, desa yang pernah dilalui kafilah kita sebelum tiba di sini. Tak satu pun pedagang kita yang pernah singgah ke sana. Mereka bilang itu hanya buang-buang waktu karena penduduknya begitu miskin, namun bertahun-tahun silam aku pernah menjual ratusan jubah kepada para gembala di sana. Tinggallah di Bethlehem sampai jubah itu terjual."
Hafid mengangguk, berusaha menyembunyikan kegembiraannya namun tak berhasil. "Dengan harga berapa aku harus menjual jubah ini, Tuan?"
"Aku akan mencatat satu keping perak denarius atas namamu di buku besarku. Ketika kamu kembali, kamu akan menyerahkan satu keping perak denarius kepadaku. Simpanlah semua yang kamu terima melebihi jumlah ini sebagai komisimu, jadi, pada kenyataannya, kamulah yang menentukan harga jubah itu sendiri. Kamu boleh mengunjungi pasar yang berada di pintu masuk selatan kota, atau mungkin kamu ingin mempertimbangkan untuk mendatangi setiap rumah di kota itu sendiri, yang aku yakin jumlahnya lebih dari seribu. Tentu saja masuk akal bahwa satu jubah bisa terjual di sana, tidakkah kamu setuju?"
Hafid mengangguk lagi, pikirannya sudah melayang ke hari esok.
Pathros meletakkan tangannya dengan lembut di bahu pemuda itu. "Aku tidak akan menempatkan siapa pun di posisimu hingga kau kembali. Jika kau mendapati bahwa profesi ini tidak sesuai dengan nuranimu, aku akan memakluminya, dan kau tidak perlu merasa telah mencoreng nama baikmu. Jangan pernah malu karena telah mencoba lalu gagal, sebab ia yang tak pernah gagal adalah ia yang tak pernah mencoba. Setelah kau kembali, aku akan menanyaimu panjang lebar tentang pengalamanmu. Barulah kemudian aku memutuskan bagaimana aku akan membantumu mewujudkan mimpi-mimpimu yang tampak mustahil itu."
Hafid membungkuk dan berbalik hendak pergi, namun lelaki tua itu belum selesai bicara. "Anakku, ada satu ajaran yang harus selalu kau ingat saat kau memulai kehidupan baru ini. Pegang teguh ia dalam benakmu, dan kau akan mampu menaklukkan rintangan-rintangan yang tampaknya mustahil β rintangan yang pasti akan menghadangmu, sebagaimana ia menghadang setiap orang yang memiliki ambisi."
Hafid menunggu. "Ya, Tuan?"
"Kegagalan tidak akan pernah mampu mengalahkanmu, selama tekadmu untuk berhasil cukup kuat."
Pathros melangkah mendekati pemuda itu. "Apakah kau memahami sepenuhnya makna dari kata-kataku?"
"Ya, Tuanku."
"Kalau begitu, ulangi padaku!"
"Kegagalan tidak akan pernah mengalahkanku selama tekadku untuk berhasil cukup kuat."