Bab Delapan – Gulungan Pertama

✍️ Og. Mandino

Hari ini aku memulai hidup yang baru.

Hari ini aku menanggalkan kulitku yang lama, yang telah terlalu lama menanggung lebam kegagalan dan luka kebiasa-biasaan.

Hari ini aku terlahir kembali, dan tempat kelahiranku adalah sebuah kebun anggur yang buahnya berlimpah untuk semua.

Hari ini aku akan memetik buah kebijaksanaan dari pohon anggur tertinggi dan paling rimbun di kebun ini, sebab mereka ditanam oleh para pendahuluku yang paling bijak, turun-temurun dari generasi ke generasi.

Hari ini aku akan menikmati cita rasa buah anggur dari sulur-sulur ini, dan sungguh aku akan menelan benih keberhasilan yang tersimpan di dalamnya — dan kehidupan baru pun akan bersemi dalam diriku.

Karier yang telah kupilih ini penuh dengan kesempatan, namun juga sarat dengan kepedihan dan keputusasaan — dan jasad mereka yang telah gagal, seandainya ditumpuk satu di atas yang lain, niscaya akan menaungi seluruh piramida di muka bumi ini dengan bayangannya.

Namun aku tidak akan gagal, seperti yang lain, karena kini di tanganku telah kugenggam peta-peta yang akan memanduku melewati perairan berbahaya menuju pantai-pantai yang kemarin pun masih tampak sekadar angan belaka.

Kegagalan tidak akan lagi menjadi bayaran atas perjuanganku. Sebagaimana alam tidak merancang tubuhku untuk menanggung rasa sakit, demikian pula ia tidak merancang hidupku untuk menanggung kegagalan. Kegagalan, seperti halnya rasa sakit, adalah sesuatu yang asing bagi hidupku. Di masa lalu, aku menerimanya sebagaimana aku menerima rasa sakit. Kini aku menolaknya, dan aku siap menyambut kebijaksanaan serta prinsip-prinsip yang akan menuntunku keluar dari bayang-bayang kegelapan menuju cahaya kekayaan, kedudukan, dan kebahagiaan yang jauh melampaui impian-impianku yang paling liar sekalipun — hingga bahkan apel-apel emas di Taman Hesperides pun tak akan terasa lebih dari sekadar ganjaran yang memang sudah sepantasnya aku terima.

Waktu mengajarkan segalanya kepada mereka yang hidup selamanya, namun aku tidak memiliki kemewahan keabadian. Meski begitu, dalam waktu yang telah diperuntukkan bagiku, aku harus melatih seni kesabaran, sebab alam tidak pernah bertindak tergesa-gesa. Untuk menciptakan pohon zaitun, raja dari segala pohon, diperlukan seratus tahun. Tanaman bawang sudah tua dalam sembilan minggu. Aku telah hidup seperti tanaman bawang. Hal itu tidak menyenangkanku. Kini aku ingin menjadi pohon zaitun yang paling agung dan, sejatinya, menjadi pedagang yang paling ulung.

Lalu bagaimana semua ini akan terwujud? Sebab aku tidak memiliki pengetahuan maupun pengalaman untuk meraih keagungan, dan aku pun telah terseok dalam ketidaktahuan serta terjerumus ke dalam kubangan rasa kasihan pada diri sendiri. Jawabannya sederhana. Aku akan memulai perjalananku tanpa dibebani oleh pengetahuan yang tidak perlu maupun pengalaman yang tidak bermakna. Alam semesta telah menganugerahkan kepadaku pengetahuan dan naluri yang jauh melampaui binatang mana pun di hutan, dan nilai sebuah pengalaman kerap kali terlalu diagung-agungkan — biasanya oleh para orang tua yang mengangguk penuh kebijaksanaan namun berbicara tanpa makna.

Sesungguhnya, pengalaman mengajarkan segala sesuatu secara menyeluruh, namun perjalanan pengajarannya melahap bertahun-tahun usia manusia, sehingga nilai dari setiap pelajarannya menyusut seiring lamanya waktu yang dibutuhkan untuk meraih kebijaksanaan istimewa itu. Pada akhirnya, semua itu terbuang percuma pada mereka yang telah tiada. Lebih jauh lagi, pengalaman tak ubahnya seperti mode; tindakan yang terbukti berhasil hari ini bisa jadi tak lagi bisa diterapkan dan tak bermakna esok hari.

Hanya prinsiplah yang abadi, dan kini prinsip-prinsip itu telah kumiliki, sebab hukum-hukum yang akan membimbingku menuju kebesaran tersimpan dalam kata-kata gulungan ini. Apa yang akan mereka ajarkan kepadaku lebih banyak berkaitan dengan menghindari kegagalan daripada meraih kesuksesan, karena apakah kesuksesan itu selain sebuah keadaan pikiran? Di antara seribu orang bijak, mana ada dua yang akan mendefinisikan kesuksesan dengan kata-kata yang sama; namun kegagalan selalu digambarkan hanya dengan satu cara. Kegagalan adalah ketidakmampuan manusia untuk mencapai tujuan-tujuannya dalam hidup, apa pun tujuan itu.

Sesungguhnya, satu-satunya perbedaan antara mereka yang gagal dan mereka yang berhasil terletak pada perbedaan kebiasaan mereka. Kebiasaan baik adalah kunci segala keberhasilan. Kebiasaan buruk adalah pintu yang terbuka lebar menuju kegagalan. Maka, hukum pertama yang akan kutaati, yang mendahului segala hukum lainnya adalah—aku akan membentuk kebiasaan baik dan menjadi hambanya.

Sewaktu kecil, aku adalah budak dari dorongan hatiku sendiri; kini aku adalah budak dari kebiasaan-kebiasaanku, sebagaimana halnya semua orang dewasa. Aku telah menyerahkan kehendak bebasku kepada tahun-tahun kebiasaan yang menumpuk, dan perbuatan-perbuatan masa laluku telah menorehkan sebuah jalan yang mengancam untuk memenjarakan masa depanku. Tindakan-tindakanku dikendalikan oleh nafsu, gairah, prasangka, keserakahan, cinta, ketakutan, lingkungan, kebiasaan — dan yang paling kejam di antara para tiran ini adalah kebiasaan. Maka, jika aku memang harus menjadi budak dari kebiasaan, biarlah aku menjadi budak dari kebiasaan yang baik. Kebiasaan-kebiasaan burukku harus dihancurkan, dan alur-alur baru harus dipersiapkan untuk benih yang baik.

Aku akan membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dan menjadi budaknya.

Lalu bagaimana aku akan mencapai prestasi yang sulit ini? Melalui gulungan-gulungan ini, semuanya akan terwujud, karena setiap gulungan mengandung sebuah prinsip yang akan mengusir kebiasaan buruk dari hidupku dan menggantinya dengan kebiasaan yang akan membawaku lebih dekat menuju kesuksesan. Sebab inilah salah satu hukum alam yang lain: bahwa hanya sebuah kebiasaan yang mampu menaklukkan kebiasaan lainnya. Maka, agar kata-kata tertulis ini dapat menjalankan tugasnya, aku harus mendisiplinkan diri dengan kebiasaan baru pertamaku, yang berbunyi sebagai berikut:

Aku akan membaca setiap gulungan selama tiga puluh hari dengan cara yang telah ditentukan ini, sebelum beralih ke gulungan berikutnya.

Pertama, aku akan membaca kata-kata ini dalam diam saat aku bangun. Kemudian, aku akan membaca kata-kata ini dalam diam setelah aku menyantap makan siangku. Terakhir, aku akan membaca kata-kata ini sekali lagi tepat sebelum aku beristirahat di penghujung hari, dan yang terpenting, pada kesempatan ini aku akan membaca kata-kata tersebut dengan lantang.

Keesokan harinya aku akan mengulangi cara ini, dan aku akan terus melakukannya selama tiga puluh hari. Kemudian, aku akan beralih ke gulungan berikutnya dan mengulangi cara yang sama selama tiga puluh hari lagi. Aku akan terus melanjutkan seperti ini hingga aku telah menghayati setiap gulungan selama tiga puluh hari dan kebiasaan membacaku pun terbentuk dengan sendirinya.

Dan apa yang akan tercapai dengan kebiasaan ini? Di sinilah tersembunyi rahasia terdalam dari semua pencapaian manusia. Ketika aku mengulang kata-kata itu setiap hari, mereka akan segera menjadi bagian dari pikiranku yang aktif, namun yang lebih penting, mereka juga akan meresap ke dalam pikiranku yang lain — sumber misterius yang tak pernah tidur, yang menciptakan mimpi-mimpiku, dan kerap mendorongku untuk bertindak dengan cara yang tidak aku pahami sendiri.

Saat kata-kata dalam gulungan ini meresap ke dalam pikiranku yang penuh misteri, aku akan mulai terjaga setiap pagi dengan semangat hidup yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatanku akan bertumbuh, antusiasmeku akan membara, hasratku untuk memeluk dunia akan mengalahkan setiap rasa takut yang dulu mencengkeramku di kala fajar, dan aku akan menemukan kebahagiaan yang melampaui apa yang pernah kubayangkan mungkin ada di dunia yang penuh pergolakan dan kesedihan ini.

Pada akhirnya aku akan mendapati diriku merespons setiap situasi yang kuhadapi sebagaimana yang diperintahkan oleh gulungan-gulungan itu, dan lambat laun segala tindakan serta respons itu akan menjadi mudah untuk kulakukan, karena tindakan apa pun yang diulang-ulang akan menjadi terasa ringan.

Maka lahirlah sebuah kebiasaan baru yang baik, sebab ketika suatu tindakan menjadi mudah melalui pengulangan yang terus-menerus, ia menjadi sebuah kesenangan untuk dilakukan, dan jika ia adalah sebuah kesenangan untuk dilakukan, sudah menjadi fitrah manusia untuk melakukannya berulang kali. Ketika aku melakukannya berulang kali, ia menjadi sebuah kebiasaan, dan aku pun menjadi hambanya — dan karena ia adalah kebiasaan yang baik, inilah kehendakku.

Hari ini aku memulai hidup yang baru.

Dan aku bersumpah dengan sungguh-sungguh kepada diriku sendiri bahwa tidak ada apapun yang akan menghambat pertumbuhan kehidupan baruku. Aku tidak akan melewatkan satu hari pun dari bacaan-bacaan ini, karena hari yang berlalu tak dapat ditarik kembali, dan tidak ada hari lain yang bisa menggantikannya. Aku tidak boleh, dan tidak akan, memutus kebiasaan membaca gulungan-gulungan ini setiap harinya — dan sesungguhnya, beberapa saat yang kuluangkan setiap hari untuk kebiasaan baru ini hanyalah harga kecil yang harus kubayar demi kebahagiaan dan kesuksesan yang kelak akan menjadi milikku.

Saat aku membaca dan menelaah kembali kata-kata dalam gulungan-gulungan yang akan kuikuti, tidak akan pernah kubiarkan singkatnya setiap gulungan maupun kesederhanaan kata-katanya membuatku meremehkan pesan yang terkandung di dalamnya. Ribuan buah anggur diperas untuk memenuhi satu guci dengan wine, sementara kulit dan ampasnya dibuang untuk makanan burung. Begitu pula dengan buah-buah kebijaksanaan dari zaman ke zaman ini. Banyak yang telah disaring dan diterbangkan angin. Hanya kebenaran murni yang tersisa, tersuling dalam kata-kata yang akan datang. Aku akan meminumnya sesuai petunjuk dan tidak akan menumpahkan satu tetespun. Dan benih kesuksesan itu akan kutelan bulat-bulat.

Hari ini kulitku yang lama telah menjadi debu. Aku akan berjalan tegak di antara manusia dan mereka tidak akan mengenaliku, karena hari ini aku adalah manusia baru, dengan kehidupan yang baru.