Hafid, bersama hewannya, memasuki kota Damascus yang berpagar tembok melalui pintu gerbang Timur. Ia menelusuri jalan bernama Straight dengan hati dipenuhi keraguan dan kecemasan, sementara kebisingan dan teriakan dari ratusan bazar sama sekali tak mampu mengusir rasa takutnya. Sungguh berbeda rasanya tiba di sebuah kota besar bersama kafilah dagang yang kuat seperti milik Pathros; sangat berbeda dengan datang tanpa perlindungan dan seorang diri. Para pedagang jalanan menyerbu dari segala penjuru, mengacungkan dagangan mereka, masing-masing berteriak lebih keras dari yang lain. Ia melewati kios-kios dan bazar yang memajang keahlian para pandai tembaga, pandai perak, pembuat pelana, penenun, dan tukang kayu; dan setiap langkah mulanya membawanya berhadapan dengan pedagang lain, tangan terulur, melantunkan kata-kata penuh iba diri.
Tepat di hadapannya, di balik tembok barat kota, menjulang Gunung Hermon. Meski musim panas tengah berlangsung, puncaknya masih diselimuti salju putih, seolah menatap hiruk-pikuk pasar di bawahnya dengan penuh toleransi dan kesabaran. Akhirnya Hafid meninggalkan jalan terkenal itu dan mencari tempat menginap, yang dengan mudah ia temukan di sebu> penginapan bernama Moscha. Kamarnya bersih, dan ia membayar sewa sebulan penuh di muka — tindakan yang seketika mengangkat wibawanya di mata Antonine, sang pemilik. Ia pun menempatkan hewannya di kandang belakang penginapan, membersihkan diri di aliran sungai Barada, lalu kembali ke kamarnya.
Ia meletakkan peti kayu cedar kecil itu di ujung ranjangnya, lalu mulai melepaskan tali-tali kulit yang membelit tutupnya. Penutup itu terbuka dengan mudah, dan ia menatap gulungan-gulungan kulit di dalamnya. Akhirnya ia menggapai ke dalam dan menyentuh kulit itu. Rasanya lembut dan hidup di bawah jemarinya, sehingga ia menarik tangannya dengan tergesa. Ia bangkit dan melangkah menuju jendela berjalinan, tempat suara-suara dari pasar yang riuh — hampir setengah mil jauhnya — mengalir masuk. Rasa takut dan keraguan kembali menghampirinya ketika ia memandang ke arah suara-suara yang sayup itu, dan ia merasakan kepercayaan dirinya semakin surut. Ia memejamkan mata, menyandarkan kepala ke dinding, lalu berseru dengan suara keras, "Betapa bodohnya aku, bermimpi bahwa aku — seorang bocah penggembala unta yang tidak berarti — suatu hari akan diakui sebagai pedagang terhebat di dunia, padahal bahkan keberanian untuk melewati lapak-lapak para pedagang di jalanan itu pun tidak kumiliki. Hari ini mataku menyaksikan ratusan penjual, dan semuanya jauh lebih siap untuk profesi mereka daripada aku. Mereka semua memiliki keberanian, semangat, dan kegigihan. Mereka semua tampak sanggup bertahan dalam rimba pasar yang keras ini. Betapa dungu dan sombongnya aku untuk berpikir bahwa aku bisa bersaing dengan mereka, bahkan mengungguli mereka. Pathros, Pathros-ku, aku takut bahwa aku akan kembali mengecewakanmu."
Ia menghempaskan diri ke atas tempat tidurnya, dan kelelahan setelah perjalanan panjang, ia terisak hingga akhirnya terlelap.
Ketika ia terbangun, hari sudah pagi. Bahkan sebelum membuka matanya, ia mendengar kicauan itu. Lalu ia duduk tegak dan menatap dengan penuh keheranan pada seekor burung pipit yang bertengger di atas tutup peti berisi gulungan-gulungan naskah yang terbuka itu. Ia berlari ke jendela. Di luar, ribuan burung pipit bergerombol di pohon-pohon ara dan sycamore, masing-masing menyambut datangnya hari dengan nyanyian. Saat ia memandang, beberapa di antaranya hinggap di ambang jendela namun segera terbang pergi ketika Hafid bergerak sedikit saja. Kemudian ia berbalik dan menatap peti itu kembali. Sang tamu berbulu itu memiringkan kepalanya dan balas menatap si pemuda.
Hafid berjalan perlahan menuju peti itu, tangannya terentang. Burung itu melompat ke telapak tangannya. "Ribuan dari jenismu ada di luar sana dan ketakutan. Tapi kamu punya keberanian untuk masuk melalui jendela."
Burung itu mematuk kulit Hafid dengan tajam, dan pemuda itu membawanya menuju meja tempat ranselnya berisi roti dan keju. Ia mematahkan beberapa potong dan meletakkannya di sisi sahabat kecilnya yang mulai makan.
Sebuah pikiran terlintas di benak Hafid dan ia kembali ke jendela. Ia mengusapkan tangannya pada celah-celah kisi-kisi itu. Lubangnya begitu kecil sehingga rasanya hampir mustahil seekor burung pipit bisa masuk dari sana. Lalu ia teringat suara Pathros, dan ia mengulang kata-kata itu dengan lantang, "Kegagalan tidak akan pernah mengalahkanmu, selama tekadmu untuk berhasil cukup kuat."
Ia kembali ke peti itu dan meraih ke dalamnya. Satu gulungan kulit tampak lebih lusuh dibanding yang lain. Ia mengangkatnya dari kotak itu dan membukanya perlahan. Rasa takut yang pernah menghantuinya kini telah lenyap. Lalu ia melirik ke arah burung pipit itu. Burung itu pun telah pergi. Hanya remah-remah roti dan keju yang tersisa sebagai bukti kunjungan si burung kecil yang pemberani. Hafid menunduk menatap gulungan di tangannya. Di bagian atasnya tertulis Gulungan Bertanda I. Ia mulai membaca.…