Bab Dua Belas – Gulungan kelima

✍️ Og. Mandino

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku.

Dan apa yang akan kulakukan dengan hari berharga terakhir ini yang masih ada dalam genggamanku? Pertama, aku akan menyegel wadah kehidupannya rapat-rapat agar tak setetes pun tumpah ke pasir. Aku tak akan menyia-nyiakan sedetik pun untuk meratapi kemalangan kemarin, kekalahan kemarin, kepedihan hati kemarin — sebab mengapa aku harus membuang kebaikan demi mengejar yang telah tiada?

Bisakah pasir mengalir ke atas dalam jam pasir? Akankah matahari terbit di tempat ia tenggelam dan tenggelam di tempat ia terbit? Bisakah aku menjalani kembali kesalahan-kesalahan kemarin dan memperbaikinya? Bisakah aku memanggil kembali luka-luka kemarin dan menyembuhkannya? Bisakah aku menjadi lebih muda dari kemarin? Bisakah aku menarik kembali kejahatan yang telah diucapkan, pukulan yang telah dilancarkan, rasa sakit yang telah ditimbulkan? Tidak. Kemarin telah terkubur selamanya dan aku tidak akan memikirkannya lagi.

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hariku yang terakhir.

Lalu apa yang harus kulakukan? Melupakan hari kemarin, aku pun tidak akan memikirkan hari esok. Mengapa aku harus menukar yang nyata dengan yang mungkin? Dapatkah pasir hari esok mengalir melalui kaca sebelum pasir hari ini habis? Akankah matahari terbit dua kali pada pagi ini? Dapatkah aku melakukan perbuatan esok hari sementara aku masih berpijak di jalan hari ini? Dapatkah aku menaruh emas esok hari ke dalam kantung hari ini? Dapatkah anak yang baru lahir esok hari dilahirkan hari ini? Dapatkah kematian esok hari mengirimkan bayang-bayangnya ke belakang dan menggelapkan kebahagiaan hari ini? Haruskah aku mengkhawatirkan peristiwa-peristiwa yang mungkin tidak pernah kusaksikan? Haruskah aku menyiksa diri dengan masalah-masalah yang mungkin tidak pernah terjadi? Tidak! Hari esok terkubur bersama hari kemarin, dan aku tidak akan memikirkannya lagi.

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku.

Hari ini adalah segalanya yang kumiliki, dan jam-jam ini adalah keabadianku. Aku menyambut fajar ini dengan tangis kegembiraan, seperti seorang tawanan yang dibebaskan dari hukuman mati. Kuangkat kedua tanganku dengan penuh syukur atas anugerah tak ternilai ini — sebuah hari yang baru. Demikian pula, aku akan menepuk dadaku dengan rasa terima kasih ketika kurenungkan mereka yang menyambut fajar kemarin, namun kini tak lagi bersama orang-orang yang hidup. Sungguh, aku adalah seorang yang beruntung, dan jam-jam hari ini tak lain adalah sebuah bonus — sesuatu yang tak pantas kuterima. Mengapa aku masih diizinkan menjalani hari tambahan ini, sementara mereka yang jauh lebih baik dariku telah pergi untuk selamanya? Apakah karena mereka telah menunaikan tujuan hidup mereka, sementara tujuanku belum juga tercapai? Apakah ini kesempatan lain bagiku untuk menjadi manusia yang kusadari mampu kujadi? Adakah tujuan yang tersembunyi dalam alam semesta ini? Apakah inilah hariku untuk bersinar?

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku.

Aku hanya memiliki satu kehidupan, dan kehidupan tak lain adalah ukuran dari waktu. Ketika aku menyia-nyiakan yang satu, aku menghancurkan yang lainnya. Jika aku membuang hari ini dengan percuma, aku menghancurkan halaman terakhir hidupku. Maka dari itu, setiap jam di hari ini akan aku jaga dengan sepenuh hati, karena ia takkan pernah kembali. Ia tak bisa disimpan hari ini untuk ditarik kembali esok hari, sebab siapa yang sanggup menjebak angin? Setiap menit hari ini akan aku genggam dengan kedua tanganku dan aku pelihara dengan penuh cinta, karena nilainya tak ternilai harganya. Orang yang sekarat pun tak mampu membeli satu embusan napas lagi, meski ia rela menyerahkan seluruh emasnya. Harga apakah yang berani aku pasang pada jam-jam yang ada di hadapanku? Aku akan menjadikannya tak ternilai!

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku.

Aku akan menghindari dengan segenap amarah segala sesuatu yang membunuh waktu. Penundaan akan kutumpas dengan tindakan; keraguan akan kukubur di bawah keyakinan; ketakutan akan kuremukkan dengan kepercayaan diri. Di mana ada mulut-mulut yang menganggur, aku takkan mendengarkan; di mana ada tangan-tangan yang berpangku, aku takkan berlama-lama; di mana ada tubuh-tubuh yang berleha-leha, aku takkan berkunjung. Mulai sekarang aku tahu bahwa membiarkan diri terjerumus dalam kemalasan sama artinya dengan mencuri makanan, pakaian, dan kehangatan dari orang-orang yang kucintai. Aku bukan pencuri. Aku adalah manusia yang penuh kasih, dan hari ini adalah kesempatanku yang terakhir untuk membuktikan cinta dan kebesaranku.

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah inilah hari terakhirku.

Kewajiban hari ini akan kutunai hari ini juga. Hari ini aku akan membelai anak-anakku selagi mereka masih kecil; esok mereka akan pergi, dan begitu pula aku. Hari ini aku akan memeluk kekasihku dengan ciuman yang manis; esok ia akan pergi, dan begitu pula aku. Hari ini aku akan menolong seorang sahabat yang membutuhkan; esok ia tak lagi memanggil pertolongan, dan aku pun tak akan lagi mendengar tangisannya. Hari ini aku akan mencurahkan diriku dalam pengorbanan dan kerja keras; esok aku tak akan punya apa-apa untuk diberikan, dan tak akan ada yang menerimanya.

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku.

Dan jika ini adalah hariku yang terakhir, biarlah ia menjadi monumenku yang teragung. Hari ini akan kujadikan hari terbaik dalam hidupku. Hari ini akan kureguk setiap menitnya hingga tetes penghabisan. Akan kusesap rasanya dan kupanjatkan syukur. Akan kupergunakan setiap jam dengan sepenuhnya, dan setiap menit hanya akan kutukar dengan sesuatu yang bernilai. Akan kukerahkan tenaga lebih keras dari sebelumnya, akan kupaksa ototku hingga mereka merintih memohon istirahat — dan kemudian aku akan terus melangkah. Akan kubuat lebih banyak kunjungan dari sebelumnya. Akan kujual lebih banyak barang dari sebelumnya. Akan kudapatkan lebih banyak emas dari sebelumnya. Setiap menit hari ini akan lebih berbuah daripada berjam-jam hari kemarin. Yang terakhir haruslah yang terbaik.

Aku akan menjalani hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku.

Dan jika ternyata bukan demikian, aku akan berlutut dan memanjatkan syukur.