Aku adalah keajaiban terbesar ciptaan alam.
Sejak awal mula waktu, tak pernah ada seorang pun yang memiliki pikiran, hati, mata, telinga, tangan, rambut, dan mulut seperti milikku. Tak ada yang datang sebelumku, tak ada yang hidup hari ini, dan tak ada yang akan datang esok hari yang dapat berjalan, berbicara, bergerak, dan berpikir persis seperti aku. Semua manusia adalah saudaraku, namun aku berbeda dari setiap mereka. Aku adalah makhluk yang unik.
Aku adalah keajaiban terbesar alam semesta.
Meskipun aku termasuk dalam kerajaan hewan, ganjaran-ganjaran hewani semata tidak akan memuaskanku. Di dalam diriku menyala sebuah api yang telah diwariskan dari generasi ke generasi tanpa terhitung jumlahnya, dan panasnya senantiasa mengusik jiwaku untuk menjadi lebih baik dari yang aku sekarang — dan aku akan mewujudkannya. Aku akan mengipasi nyala ketidakpuasan ini dan mewartakan keunikanku kepada dunia.
Tiada yang mampu meniru goresan kuasku, tiada yang mampu meniru bekas pahatanku, tiada yang mampu meniru tulisan tanganku, tiada yang mampu melahirkan anakku, dan sesungguhnya, tiada yang mampu berjualan persis seperti aku. Mulai saat ini, aku akan memanfaatkan perbedaan ini sepenuhnya, karena ia adalah aset yang patut ditonjolkan hingga ke batas tertingginya.
Aku adalah keajaiban terbesar yang pernah diciptakan alam.
Tak akan lagi kucoba sia-sia meniru orang lain. Sebaliknya, akan kupamerkan keunikanku di hadapan dunia. Akan kuproklamasikan, bahkan akan kujual. Mulai sekarang, akan kutekankan segala yang membedakanku; kusembunyikan segala yang menyamakanku dengan yang lain. Prinsip ini pun akan kuterapkan pada barang-barang yang kujual. Penjual dan barang, berbeda dari semua yang ada, dan bangga dengan perbedaan itu.
Aku adalah makhluk alam yang unik.
Aku adalah sesuatu yang langka, dan kelangkaan selalu mengandung nilai; maka, aku pun berharga. Aku adalah hasil akhir dari ribuan tahun evolusi; maka, aku lebih unggul — baik dalam pikiran maupun raga — dibandingkan semua kaisar dan orang bijak yang hidup sebelumku.
Namun keterampilan, pikiran, hati, dan tubuhku akan mengendap, membusuk, dan mati jika tidak aku pergunakan dengan sebaik-baiknya. Aku memiliki potensi yang tak terbatas. Hanya sebagian kecil dari otakku yang kugunakan; hanya segelintir ototku yang kukerahkan. Seratus kali lipat atau lebih dapat kucapai dibanding apa yang telah kuraih kemarin, dan itulah yang akan kulakukan, mulai hari ini.
Tak akan lagi aku merasa puas dengan pencapaian kemarin, tak akan lagi aku memanjakan diri dalam pujian atas perbuatan yang sejatinya terlalu kecil untuk bahkan sekadar diakui. Aku mampu meraih jauh lebih banyak dari yang telah kucapai, dan aku akan melakukannya — sebab mengapa keajaiban yang melahirkan diriku harus berhenti pada saat kelahiranku? Mengapa aku tidak dapat memperpanjang keajaiban itu hingga ke perbuatan-perbuatanku hari ini?
Aku adalah keajaiban terbesar dari alam semesta.
Kehadiranku di bumi ini bukan kebetulan. Aku hadir dengan suatu tujuan, dan tujuan itu adalah untuk tumbuh menjadi gunung yang menjulang — bukan menyusut menjadi sebutir pasir. Mulai saat ini, akan kucurahkan seluruh daya dan upayaku untuk menjadi gunung tertinggi dari segala yang ada, dan akan kutempa potensi diriku hingga ia memohon belas kasihan.
Aku akan terus memperdalam pemahamanku tentang manusia, diriku sendiri, dan barang-barang yang kujual, sehingga penjualanku pun akan berlipat ganda. Aku akan berlatih, mengasah, dan menyempurnakan setiap kata yang kuucapkan untuk menjual barang daganganku, karena inilah fondasi tempat aku membangun karier, dan tak akan pernah kulupakan bahwa banyak orang telah meraih kekayaan dan kesuksesan besar hanya dengan satu cara bicara dalam berjualan, yang disampaikan dengan penuh keunggulan. Aku pun akan senantiasa berupaya memperbaiki sopan santun dan kehalusanku, karena keduanya adalah gula yang menarik semua orang mendekat.
Aku adalah keajaiban terbesar alam semesta.
Aku akan memusatkan seluruh energiku pada tantangan yang ada di hadapan dan tindakanku akan membantuku melupakan segalanya. Masalah-masalah rumahku akan kutinggalkan di rumah. Aku tidak akan memikirkan keluargaku ketika aku berada di pasar, sebab hal itu hanya akan mengaburkan pikiranku. Demikian pula, masalah-masalah pasar akan kutinggalkan di pasar, dan aku tidak akan memikirkan pekerjaanku ketika aku berada di rumah, sebab hal itu hanya akan meredupkan rasa cintaku.
Tidak ada tempat di pasar bagi keluargaku, begitu pula tidak ada tempat di rumahku bagi pasar. Keduanya akan kupisahkan satu sama lain, dan dengan begitu aku tetap terikat pada keduanya. Mereka harus tetap terpisah, atau karierku akan binasa. Inilah paradoks sepanjang zaman.
Aku adalah keajaiban terbesar dari alam semesta.
Aku telah dianugerahi mata untuk melihat dan akal untuk berpikir, dan kini aku mengetahui sebuah rahasia agung kehidupan — sebab akhirnya aku menyadari bahwa semua masalah, keputusasaan, dan kesedihan hatiku sesungguhnya adalah peluang besar yang menyamar. Aku tak akan lagi tertipu oleh jubah yang mereka kenakan, karena mataku kini telah terbuka. Aku akan menatap melampaui kain itu, dan aku takkan membiarkan diriku diperdaya.
Aku adalah keajaiban terbesar dari alam semesta.
Tak ada binatang, tak ada tumbuhan, tak ada angin, tak ada hujan, tak ada batu, tak ada danau yang memiliki asal mula yang sama denganku, sebab aku dikandung dalam cinta dan dilahirkan dengan sebuah tujuan. Selama ini aku tidak pernah merenungkan kenyataan ini, namun mulai sekarang ia akan membentuk dan menuntun hidupku.
Aku adalah keajaiban terbesar alam semesta.
Dan alam tidak mengenal kekalahan. Pada akhirnya, ia selalu keluar sebagai pemenang — dan begitu pula aku. Dengan setiap kemenangan, perjuangan berikutnya akan terasa semakin ringan.
Aku akan menang, dan aku akan menjadi seorang penjual yang luar biasa, karena aku adalah sosok yang unik.
Aku adalah keajaiban terbesar dari alam semesta.