Bab Sepuluh – Gulungan ketiga

✍️ Og. Mandino

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Di Timur, banteng-banteng muda diuji untuk arena pertarungan dengan cara tertentu. Setiap banteng dibawa ke gelanggang dan dibiarkan menyerang seorang picador yang menusuknya dengan tombak. Keberanian setiap banteng kemudian dinilai dengan seksama berdasarkan berapa kali ia menunjukkan keberaniannya untuk terus menyerang meski tersengat ujung bilah. Mulai kini, aku akan menyadari bahwa setiap hari hidupku menguji diriku dengan cara yang serupa. Jika aku bertahan, jika aku terus berusaha, jika aku terus melangkah maju, aku akan berhasil.

Aku akan terus bertahan hingga berhasil.

Aku tidak dilahirkan ke dunia ini dalam kekalahan, dan kegagalan tidak mengalir dalam darahku. Aku bukan domba yang menunggu untuk digiring oleh gembalanya. Aku adalah singa, dan aku menolak untuk berbicara, berjalan, serta tidur bersama kawanan domba. Aku tidak akan menggubris mereka yang meratap dan mengeluh, karena penyakit mereka begitu mudah menular. Biarlah mereka bergabung dengan para domba. Rumah jagal kegagalan bukanlah takdirku.

Aku akan terus bertahan hingga berhasil.

Hadiah-hadiah kehidupan menanti di penghujung setiap perjalanan, bukan di awal mula; dan tidaklah diberikan kepadaku pengetahuan tentang berapa banyak langkah yang harus kutempuh untuk mencapai tujuanku. Kegagalan mungkin masih akan menjemputku pada langkah keseribu, namun keberhasilan bersembunyi di balik tikungan berikutnya. Aku tak akan pernah tahu seberapa dekat ia, kecuali aku melangkah melewati tikungan itu.

Aku akan selalu melangkah maju. Jika itu belum cukup, aku akan melangkah lagi, dan terus melangkah. Sesungguhnya, satu langkah demi satu langkah bukanlah hal yang terlalu berat.

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Mulai saat ini, aku akan memandang setiap usaha harianku sebagai satu ayunan pedang terhadap pohon ek yang kokoh. Ayunan pertama mungkin tak menimbulkan getaran sedikit pun pada kayunya, begitu pula yang kedua, maupun yang ketiga. Setiap ayunan, jika berdiri sendiri, mungkin tampak remeh dan seolah tak berarti. Namun dari tebasan-tebasan kecil yang lemah itu, pohon ek pada akhirnya akan tumbang. Demikian pula halnya dengan usahaku hari ini.

Aku akan menjadi seperti tetes hujan yang mengikis gunung; seperti semut yang melahap harimau; seperti bintang yang menerangi bumi; seperti budak yang membangun piramida. Aku akan mendirikan istanaku satu bata demi satu bata, karena aku tahu bahwa usaha kecil yang terus diulang akan menyelesaikan setiap pekerjaan besar.

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Aku tidak akan pernah menerima kekalahan, dan aku akan menyingkirkan dari kosakataku kata-kata dan ungkapan seperti menyerah, tidak bisa, tidak mampu, mustahil, tidak mungkin, tidak masuk akal, gagal, tidak layak, putus asa, dan mundur; karena itulah kata-kata para pecundang. Aku akan menjauhkan diri dari keputusasaan, namun jika penyakit jiwa ini turut menghinggapiku, aku akan tetap bekerja di tengah keputusasaan itu. Aku akan berjuang dan aku akan bertahan. Aku akan mengabaikan rintangan di kakiku dan terus menatap tujuan yang menjulang di atas kepalaku, karena aku tahu bahwa di mana padang pasir yang gersang berakhir, di sanalah rumput hijau tumbuh subur.

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Aku akan mengingat hukum rata-rata yang telah ada sejak zaman dahulu, dan aku akan menundukkannya demi kebaikanku. Aku akan terus bertahan dengan keyakinan bahwa setiap kegagalan dalam menjual akan memperbesar peluangku untuk berhasil pada usaha berikutnya. Setiap penolakan yang kudengar akan membawaku selangkah lebih dekat menuju kata iya. Setiap kerutan dahi yang kutemui hanyalah persiapan bagi senyuman yang akan datang. Setiap kemalangan yang kujumpai menyimpan benih keberuntungan hari esok. Aku memerlukan malam untuk dapat menghargai siang. Aku harus sering gagal demi meraih satu keberhasilan.

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Aku akan terus berusaha, dan terus berusaha, dan berusaha lagi. Setiap rintangan akan kuanggap sebagai jalan memutar menuju tujuanku, sekaligus tantangan bagi kemampuanku. Aku akan bertahan dan mengasah keahlianku sebagaimana seorang pelaut mengasah miliknya — dengan belajar mengarungi murka setiap badai.

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Mulai sekarang, aku akan mempelajari dan menerapkan rahasia lain dari mereka yang unggul dalam pekerjaanku. Ketika setiap hari telah berakhir, tak peduli apakah hari itu penuh keberhasilan atau kegagalan, aku akan berusaha meraih satu penjualan lagi. Ketika pikiranku memanggil tubuhku yang lelah untuk pulang ke rumah, aku akan menolak godaan untuk pergi. Aku akan mencoba sekali lagi. Aku akan membuat satu upaya lagi untuk menutup hari dengan kemenangan, dan bila itu pun gagal, aku akan membuat upaya berikutnya. Tidak akan pernah kubiarkan satu hari pun berakhir dengan kegagalan. Dengan begitu, aku akan menanam benih kesuksesan hari esok dan meraih keunggulan yang tak tertandingi atas mereka yang menghentikan kerja keras mereka pada waktu yang telah ditentukan. Ketika orang lain mengakhiri perjuangan mereka, maka perjuanganku baru saja dimulai, dan panenku akan berlimpah ruah.

Aku akan terus bertahan hingga aku berhasil.

Aku pun tak akan membiarkan keberhasilan kemarin menina-bobokkan diriku dalam kelengahan hari ini, karena inilah fondasi terbesar dari kegagalan. Aku akan melupakan segala yang terjadi pada hari yang telah berlalu, baik suka maupun duka, dan menyambut matahari baru dengan keyakinan bahwa inilah hari terbaik dalam hidupku.

Selama masih ada napas dalam diriku, selama itu pula aku akan terus bertahan. Karena kini aku mengetahui salah satu prinsip terbesar dalam meraih keberhasilan; jika aku bertahan cukup lama, aku akan menang.

Aku akan terus bertahan.

Aku akan menang.